Wawancara eksklusif
Harris Thajeb Bicara Terbuka Soal Industri Periklanan Indonesia

0
1380

SOAL PITCH DAN PERANG FEE

AI: Ketika ada pitch, multinasional ikut berbagai pagu. Menurut Anda?
HT: Itu benar. Mungkin harus ada klasifikasinya. Bisa dipertimbangkan untuk waktu ke depan. Ada kalanya, client tidak memahami situasi seperti ini. Dulu ada client memanggil sampai 70 agency. Prosesnya bisa berbulan-bulan. Kita sampaikan, kalau bisa jangan sampai lebih dari 5 agency. Dari 5 ini baru dibuat kategori A-B-C. Tapi di advertising, begitu diminta terbuka, apakah mereka perusahaan besar atau kecil, sebagian tidak mau terbuka. Bagaimana kita bisa membuat regulasi atau klasifikasi jika mereka tidak jujur?

AI: Apa yang sebenarnya terjadi saat ini?
HT: Saya lihat ada beberapa agency multinasional atau nasional, demi mendapatkan client mereka melakukan berbagai cara. Hal ini terjadi karena ada “perang fee”. Ada kalanya, karena beberapa divisi yang performance-nya tidak bagus, akhirnya mereka mencari client, at any cost. Kalau kita, selalu berusaha mengendalikan fee-nya agar tidak boleh kurang dari ‘sekian’. Tapi client kembali lagi ke kita mengatakan bahwa kompetitor memberikan fee sampai 0,5%. Sesekali kita tidak ikut, hingga akhirnya hal itu terjadi berkali-kali.

AI: Apa karena kita (industri periklanan) tidak kompak?
HT: Bisa jadi, karena saya harus jujur, bahwa saya tidak tahu siapa yg memulai. Waktu itu ada acara Rakerda P3I DKI. Saya menghimbau kepada anggota bahwa kita ini jangan perang harga. Dimana harga diri kita? Kalau agency fee sdh kurang dari 1% itu sudah tidak masuk akal. Mana harga diri kita?

Saya selalu bilang pada staf saya maksimal turun ke 2,5%. Take it or leave it! Kenapa? Kalau Anda (client) datang ke kita, Anda dapat kualitas. Jadi yang saya lihat waktu itu memang tidak kompak karena ada saja agency yang membutuhkan client, dan mereka rela sampai melakukan apa saja, dan ternyata, ini bukan hanya lokal, yang multinasional juga ada.

Baca : Wawancara Eksklusif Indra Abidin (Tokoh Industri Periklanan Indonesia)

AI: Apakah perlu suatu gerakan yg untuk menjaga persaingan ini? Kita khawatir pemerintah tidak punya data.
HT
: Mungkin, persepsi pemerintah tidak melihat bahwa advertising ini penting. Karena persepsi tidak dianggap penting itulah, jadi (advertising) tidak kemana-mana. Padahal kita mengelola 150 Triluin di tahun 2016. Ini adalah industri yg bisa menggiring opini publik.

AI: Jika pemerintah menjelaskan bahwa sekarang adalah persaingan bebas untuk advertising. Bagaimana menurut Anda?
HT: Tetap harus ada regulasi yang menata kita sendiri. Contoh: antara kita dengan pengiklan ada kesepakatan untuk tidak turun harga terlalu jauh. Tidak lagi diserahkan kepada procurement tapi pada marcomm. Sehingga dinilai dari kualitas dan harganya dipatok. Karena pemerintah melihat industri ini penting, maka pemerintah bisa mengeluarkan Peraturan yg mengatakan bahwa agency fee tidak boleh kurang dari sekian persen. Jangan kita diminta turun terus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here