Wawancara eksklusif
Harris Thajeb Bicara Terbuka Soal Industri Periklanan Indonesia

0
1380

AI: Akhirnya,sebagian agency melakukan bargaining khusus dengan media house dan itu sebetulnya tidak bagus. Bagaimana cara mengendalikan itu?
HT: Harus ada suatu agreement antara agency, client dengan media. Tripartit. Agency fee memang harus dinaikkan. Di Filipina, tripartit itu berjalan sehingga agency fee tidak boleh dibawah dari 5%.

AI: Siapa yang diajak ikut duduk bersama mendiskusikan hal ini?
HT: Saya lebih senang bicara dengan APINA (Asosiasi Pengiklan Indonesia). P3I harus lebih mendekatkan diri dengan APINA untuk berembuk. Karena kalau kita mati, mereka juga tak akan hidup. Seharusnya antara agency dengan APINA harus ada kerjasama yg menjelaskan bahwa agency fee jangan dibawah dari 2,5% atau bisa hancur industri ini. Pengiklan juga ikut hancur. Kita tidak bisa survive.

AI: Apa yang menyebabkan kesepakatan ini sulit dicapai?
HT: Memang belum menjadi kesepakatan, karena kita belum pernah duduk bersama-sama dengan mereka. Dulu, kita bicara dengan Marcomm tapi sekarang kita masuk ke Procurement. Harusnya secara internal, antara agency dengan procurement harus ada saling pengertian bahwa: “Untuk membeli sesuatu, jika terlalu murah kualitasnya akan jelek.” Intinya tidak sehat.

AI: Sekarang ini sebetulnya SDM Periklanan sudah jauh lebih bagus, kenapa tidak bisa dijual lebih mahal?
HT: Kalau kita bertahan dengan harga mahal, lucunya, kompetitor juga berani turun. Ada juga yang kualitas multinasional yang mau turun harga.

Baca : Wawancara Khusus Ariyanto Zainal (President Director MACS909)

AI: Apakah hal tersebut tidak bisa ditegur oleh Asosiasi?
HT: Asosiasi tidak berdaya karena tidak ada undang-undang dan hukumnya. Hanya ada etika. Sampai keluar wacana, mungkin sebagai Advertising Agency, kita hanya dianggap sebagai broker.

AI: Apakah perlu diganti nama Advertising Agency menjadi Advertising Consultant? Kata ‘Agency’ mungkin terkesan kuno?
HT: Kita sebetulnya adalah konsultan dalam strategi komunikasi. Cuma sekarang, kita sudah dianggap sebagai vendor.

AI: Kenapa hal itu bisa terjadi?
HT: Itu karena agency mau saja terima fee yang rendah. Lalu kemudian saat ada beberapa hal yang perlu dilakukan, itu client hanya memberi perintah lalu agency hanya mengiyakan saja. Tidak ada diskusi. Jadi tidak terlihat sebagai mitra. Tapi hanya terlihat sebagai supplier.

Disini saya punya beberapa client yg “extreme” yang hanya meminta agency melakukan pekerjaan. Sebetulnya yang enak adalah bermitra. Waktu itu dengan Indosat. Itu dengan bagian Marcomm kita bisa berdebat namun akhirnya kita menjadi satu tim. Contoh lain, Garuda. Kita pegang brand Garuda selama 9 tahun. Itu bisa langgeng karena kita berhasil membawa Indosat dan Garuda ke brand level yang luar biasa kuatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here