Wawancara eksklusif
Harris Thajeb Bicara Terbuka Soal Industri Periklanan Indonesia

0
1380

SOAL AGENCY NASIONAL DAN MULTINASIONAL

AI: Persaingan antara biro iklan nasional dan multinasional. Bagaimana pandangan anda tentang persaingan ini?
HT: Ini suatu hal yang sudah lama diperbincangkan sejak saya masuk Dentsu. Saya katakan begini: sebenarnya antara multinasional dan nasional itu tidak ada perbedaan. Itu karena masing-masing memiliki kekuatan. Banyak sekali agency nasional juga bisa bertahan kuat. Terutama yang masuk ke media, mereka itu punya hubungan yang sudah sangat erat dengan media, karena di Indonesia kita tidak bisa lepas dari hubungan baik.

Selama ini, jujur, selama agency nasional professional maka mereka bisa bersaing dengan sangat baik dengan multinasional. Seperti yang Bung Narga (Narga Habib, Founder Cabe Rawit-red) bilang bahwa lokal sebetulnya tidak butuh proteksi, itu pasti karena lokal punya diferensiasi sendiri. Apakah dari service-nya? Bisa jadi, lebih cepat merespon? Jadi mungkin ada kelebihan. Soal Tools? Apakah itu adaptable atau tidak? Apakah itu efektif untuk nasional? Menurut saya, kompetisi (persaingan nasional dan multinasional) ini cukup sehat. Yang nasional pun tetap ada. Seperti bung Narga bilang, selama mereka confident saya rasa tidak ada masalah.

Lalu apakah lokal ini perlu diproteksi? Saya rasa tidak, karena banyak diantara mereka yang survive. Saya melihat mereka (biro iklan nasional) lebih efektif, mungkin dari segi service lebih baik kepada client. Saya lihat kompetisi itu cukup sehat. Tak perlu ada proteksi. Saya melihat persaingan itu cukup sehat. Kita pernah picth, kita belum tentu menang lawan nasional atau lokal. Saya lihat kalau yang lokal atau nasional ini diproteksi malah akan pleasant atau keenakan. Jadi mereka malah tidak berjuang.

Baca : Wawancara Eksklusif Dengan Bimo Setiawan, Founder Brand Media Id: Otoritas…

AI: Bagaimana dengan struktur kepemililikan Agency Multinational di Indonesia saat ini?
HT: Sebentar lagi mereka akan terbuka memiliki saham hingga 51%.

AI: Apakah asosiasi sudah bergerak soal itu?
HT:
Sudah kita coba ke Kementerian Tenaga Kerja. Sekarang kita ke Bekraf. 51% ini sudah mulai berjalan. Jadi mereka bisa menaruh orang-orang mereka.

AI: Bagaimana soal tenaga lokal dan asing?
HT:
Pernah kita mengusahakan pegawai lokal sebagai mayoritas dengan pegawai asing max 30%. Kita berusaha membatasi orang asing yaitu untuk 1 orang asing, berarti ada 50 orang lokal. Tapi mereka minta jadi 1 orang asing dengan 30 orang lokal. Apakah aturan itu ditaati atau tidak? Nanti posisi manager akan diisi orang-orang asing, padahal orang lokal juga bisa.

AI: Mengapa bisa terjadi?
HT: Saya tidak tahu itu. Mereka bilang tidak menemukan tenaga lokal yang memadai sehingga membawa tenaga ahli dari luar. Di Depnaker asal bayar iuran, mereka bisa masuk. Pernahkah kita bertanya tentang ijazahnya? Track record-nya? Kita ingin membuat sertifikasi kepada orang-orang asing yang memang benar-benar punya keahlian. Mereka boleh datang, tapi harus punya sertifikasi. Kedua, harus diatur waktunya. Ada yang cuma 2 tahun tidak lebih. Kalau di Filipina, pegawai asing itu hanya bisa menjabat selama 2 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here