Masa Depan Suram Perusahaan Media Advertising Indonesia

0
2133

ADVERTISING-INDONESIA.id – Bisnis advertising adalah salah satu bisnis global atau bisnis yang sudah sangat mendunia. Kitapun sudah menjadi bagian dari masyarakat periklanan dunia, terbukti dengan kehadiran perusahaan periklanan raksasa dunia di Indonesia yang ironisnya secara perlahan tapi pasti semakin mendominasi struktur industri periklanan Indonesia. Sekalipun globalisasi tidak bisa dicegah, keberadaan berbagai perusahaan asing khususnya advertising media company tetap harus disikapi dengan jelas, tegas dan professional. Kehadiran perusahaan asing seharusnya mampu memacu kualitas pelaku industri lokal ke tingkat yang lebih tinggi, namun jika tidak diwaspadai dan dikelola dengan bijak maka hal-hal yang kontraproduktif bisa terjadi. Kita berpotensi menjadi penonton atau hanya menjadi professional level menengah.

Kekuatan Dahsyat Perusahaan Media Advertising Global

Group M adalah salah satu raksasa perusahaan media periklanan dunia saat ini. Perusahaan ini berpusat di New York dan memiliki lebih dari 24,000 karyawaan dan 400 kantor global di 81 negara. Group M dibentuk pada tahun 2003 oleh WPP Group sebagai perusahaan induk yang menaungi sejumlah media agency seperti Maxus, MediaCom, Mindshare, Essence, Wave Maker, M/Six, Xaxis, Modi Media, Catalyst, Midas. Lewat situs Group M, disebutkan bahwa billing yang dikelola Group M sudah sekitar 108 miliar dolar.

IPG adalah perusahaan layanan marketing global lainnya yang menaungi dan mengelola lebih dari 100 perusahaan advertising agency dan spesialis-spesialis marketing. Advertising agency lawas yang bernaung di bawah IPG diantaranya adalah McCann Worldwide dan FCB.  Jumlah perusahaan media advertising yang meraksasa dewasa ini semakin banyak.

Di Indonesia, sepak terjang perusahaan media advertising seperti Group M, OMD, Havas, IPG dan Dentsu X semakin hari semakin agresif dan billing masing-masing perusahaan ini diduga sudah melebihi 1 triliun rupiah per tahun. Kehadiran mereka tak pelak memberi tekanan kepada pemain-pemain lokal bahkan puluhan advertising agensi lokal terpaksa bubar atau beroperasi dalam skala usaha yang sangat kecil. Sudah tidak terhitung pemilik brand besar yang memindahkan pengelolaan billing media mereka dari perusahaan lokal ke perusahaan-perusahaan asing ternama yang beroperasi di Indonesia. Banyak pihak menyayangkan hal ini khususnya para perintis bisnis periklanan Indonesia. Sejumlah tokoh produktif industri periklanan Indonesia menghilang dari hiruk pikuk industri periklanan Indonesia seolah menyerah dengan persaingan bebas industri periklanan Indonesia yang tampak semakin tidak sehat.

Kehadiran perusahaan media periklanan asing di Indonesia sudah tidak bisa dihindari dan kekuatan mereka sangat sulit untuk ditandingi. Keterbukaan pemerintah dalam menerima perusahaan asing termasuk perusahaan periklanan asing sangat memudahkan grup-grup besar perusahaan periklanan dunia membuka kantor operasi mereka di Indonesia.

Sebagai bagian dari grup yang sangat besar, kapasitas mereka sangat luar biasa baik dari segi modal kerja, teknologi, kompetensi sumberdaya manusia dan dukungan jaringan kantor yang sangat luas. Kita mengakui kerapihan infrastruktur yang mereka siapkan termasuk kesigapan mereka dalam ‘membajak’ tenaga-tenaga ahli lokal dengan gaji yang jauh lebih tinggi yang membuat banyak perusahaan media advertising lokal harus gigit jari karena kehilangan tenaga-tenaga ahli terbaik mereka dengan begitu mudah.

Tenaga-tenaga lokal Indonesia tampak sangat menyukai iklim kerja yang mereka tawarkan, termasuk gaji dan fasilitas lain yang ditawarkan. Dukungan kantor pusat atau induk terhadap operasi mereka biasanya sangat kuat dan para petinggi lokal tampak sangat nyaman dalam menjalankan operasi mereka tanpa takut merugi atau ditutup dalam waktu singkat, sebab laju setiap kantor baru yang dibuka di Indonesia diproyeksikan untuk minimal 5 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here