Andi Sadha, Co-Founder Activate
Agency Akan Menemukan “Business Role” yang Baru

0
999

Perang agency fee itu sekarang itu dilihat bukan dengan service yang sama kemudian adu murah, tetapi strategi seperti apa yang ditawarkan membutuhkan dana berapa sehingga dibutuhkan agency fee seperti apa? Mestinya circle-nya (paket strategi) demikian. Strategi beda harganya pun pasti beda. Agency yang tidak bisa melihat itu akan mengalami kesulitan kedepannya.

Kalau agency kecil mungkin bisa kasih harga lebih murah karena overhead-nya lebih kecil. Agency besar harus bisa bergerak sedinamis agency kecil. Tentang pengaturan strategi biaya service yang diperlukan. Marketer juga harus melihat bahwa tidak semua harga murah itu adalah yang terbaik. Pasti ada risiko yang harus ditanggung dibelakang. Bahwa agency harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan charge yang lebih besar juga itu harus dibuktikan oleh agency.

Q: Bagaimana menurut Anda tentang industri advertising yang didominasi oleh asing, sehingga membuat agency lokal tidak berdaya?

Iya dan tidak. Yang sekarang terjadi adalah terjadi perubahan luar biasa dalam skala global. Dengan adanya disruption dalam digital bahkan agency besarpun sedang mengalami kesusahan. Bahwa di Indonesia mereka masih mendominasi, iya. Tapi kalau mereka tidak berubah juga, ini adalah kesempatan buat independent agency atau agency lokal untuk mendapatkan kue yang lebih besar. Disisi lain juga harus dikihat mereka memang lebih advantage karena mereka memiliki global network mereka bisa dengan cepat mengadopsi apa yang sedang terjadi di negara lain sebelum terjadi di indonesia. Buat kita yang pemain dalam negeri harus bisa membuktikan jadi lebih baik atau paling tidak setara. Ini akan terlihat 1-2 tahun ke depan terasa cantik sekali permainannya.

Q: Apakah SDM lokal kurang mumpuni secara skill ketimbang SDM asing?

Tidak juga. Kalau kita cek sebagian besar perusahaan multi nasional memperkerjakan SDM dari Indonesia. Jangan dijadikan alasan kalau asing itu selalu lebih pintar diatas lokal. Udah gak jaman, itu gak boleh. Bahwa ada tenaga kerja luar yang membantu justru itu menjadi tantangan. Saya juga pernah bekerja di perusahaan mukti nasional jadi saya juga pernah merasakan bagaimana saya bisa berkembang, jadi kalau ada yang bilang tenaga asing itu mengancam, ya nggak lah… Justru disitu kesempatan kita berkompetisi baik dari skill, etos kerja dan lain lain. Kembali ke fundamental dasarnya, merubah paradigma pemikiran saja. Makanya kita yang lokal harus membuktikan bahwa kita bisa lebih baik atau setidaknya seimbang. Jangan dijadikan alasan untuk kita merasa lebih kecil daripada asing, justru ini dijadikan alasan untuk memacu jadi lebih baik.

Klien pun jangan selalu menganggap kalau kehadiran asing itu selalu baik secara keseluruhan. Saya mungkin akan bilang iya kalau itu 10 tahun yang lalu. Sekarang tidak. Saya yakin kolega saya di industri ini sama bagusnya dengan asing malah bahkan bisa lebih bagus. Kita juga sebagai pelaku industri ini pinter-pinter lah memasarkan diri sendiri. Masih ada harapan dan sekarang saatnya jadi tuan rumah, sekarang juga saatnya buat jalin kolaborasi buka network seluas-luasnya, sesama pemain bisa saling kenal.

Bagaimana bisa bersaing dengan asing kalau sesama pemain lokal saling sikut? Semoga para pelaku di industri ini bisa sadar. Karena tidak akan membawa ekosistem yang baik dan akhirnya yang lokal tidak bisa pernah menang dari asing. Duduk bareng dan perbaiki ekosistemnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here