Majalah Musik Populer di Inggris NME Berhenti Terbit

0
314


ADVERTISING-INDONESIA.id – Gempuran kekuatan digital sungguh tidak bisa dihadang lagi atas keberlangsungan bisnis (industri) media cetak, baik didalam maupun diluar negeri.

Sebab nyatanya hingga saat ini digital sudah memporak porandakan seluruh persendian bisnis media cetak tanpa pandang bulu. Koran dan majalah yang usianya sudah puluhan tahun pun habis di ‘sikat’ sampai ke akar-akarnya.

Peristiwa naas tersebut kembali menimpa majalah musik populer di Inggris sekaliber NME. Paska 66 tahun terbit, kabar mengejutkan datang dari NME. Majalah musik yang demikian populer di Inggris itu, mulai diterbitkan mingguan sejak Maret 1952 itu, akhirnya berhenti terbit.

Padahal sejatinya kalau dilihat dari segi usia penerbitan yang sudah enam dekade itu, tidak selayaknya majalah NME mengalami kebangkrutan. Kiprah 66 tahun penerbitan mereka sekarang hanya tinggal kenangan dan akan dilanjutkan secara online.

Situs NME.com akan menggantikan edisi cetak dengan franchise digital mingguan baru, the Big Read. Demikian dikatakan Paul Cheal, managing director di penerbit NME Time Inc UK, seperti dilansir The Guardian, Jumat (9/3).

Menurut pihak NME, faktor berhenti terbit disebabkan oleh berbagai hal. Mulai dari kenaikan biaya cetak, sampai sulitnya mendapat iklan.

“Kami juga menghadapi kenaikan biaya produksi dan pasar iklan cetak yang sangat sulit. Di ruang digital, di mana usaha dan investasi akan fokus untuk mendapatkan masa depan yang kuat bagi merek terkenal ini,” terangnya.

NME, telah dicetak mingguan sejak 1952, berhasil menghasilkan uang secara keseluruhan melalui kegiatan spin-off seperti penghargaan (award) dan acara.

Sampul depan pertama majalah tersebut menampilkan Goons, Big Bill Bronzy dan Ted Heath. Ketika majalah itu dibuka pada tahun 2015, harga sampulnya naik menjadi EUR 2,60. Pembaca awal majalah ini termasuk John Lennon, pentolan Malcolm McLaren dan T Rex Marc Bolan.

Penjualan NME mencapai puncaknya dengan tiras mencapai 307 ribu eksemplar pada tahun 1964, ketika majalah itu harus dibaca untuk mengikuti perkembangan Beatles dan Rolling Stones.

Majalah tersebut menabrak apa yang dianggap sebagai zaman keemasannya di tahun 70-an, menjadi pemandu sorak untuk aliran punk. Hingga akhirnya menjadi corong bagi musik indie, termasuk Joy Division dan the Smiths.

Di era 90an, NME berada di garis depan Britpop, dengan menampilkan Blur dan Oasis. Tetapi, majalah yang memiliki singkatan New Musical Express itu mulai merasakan tekanan musik online dan penemuan musik mulai beralih ke layanan digital, seperti Spotify. Hal ini semakin diperburuk dengan minat pembaca yang beralih ke media digital. Akibatnya, penjualan dan pendapatan iklan juga jadi terjun bebas.

 


– Peluang Media Tradisional Dalam Membangun Attention
– Media Type Competition: Persaingan Plain AD Vs Direct Response AD
– Suratkabar Joglo Semar dan Harian Bernas Tutup
– Majalah Time Bangkrut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here