Kedigdayaan Rating Program TV

0
341

Nah, bagaimana dengan rating program yang secara konsep di arahkan untuk mereka yang didefinisikan misalnya sebagai: Male, Executive, Upper Class, Open minded, dan Frequent flyer?. Rating program tersebut menurut hasil survey Nielsen sudah pasti akan sangat kecil bahkan mungkin undefined atau memiliki rating nol koma sebab responden survey dengan karakter seperti itu sudah pasti terbatas.

Pengiklan pasti menuntut penjelasan yang lebih jelas tentang jumlah dan karakter peonton sesungguhnya dari program-program yang didefinisikan sebagai segmented program. Bagaimana membuktikannya? Para pemilik program bisa meminta Nielsen Indonesia memperluas cakupan survey dan menambah jumah responden dengan karakter demografi dan psikografi yang lebih luas, tentu biayanya akan menjadi sangat mahal. Para pemilik program atau pengusaha televisi juga bisa melakukan survey terpisah baik survey kualitatif maupun kuantitatif untuk progam yang mereka kelola, tentu dengan konsekuensi biaya yang juga mahal.

Karena tujuan beriklan adalah berkomunikasi kepada audiens dengan karakter dan jumlah yang harus jelas, maka nasib program-program dengan rating rendah menurut survey Nielsen sudah pasti sangat berat, tanpa melihat terlebih dahulu isi program. Alhasil, eksistensi program akan terancam bahkan stasiun TV pemangkunya bisa terancam bubar. Sementara itu, ada banyak program yang isinya ringan dan lucu, serta bisa dicerna tanpa susah payah memiliki rating yang tinggi karena penontonnya terjaring dalam survey Nielsen. Jika pengiklan masih sangat tergantung kepada hasil Survey Nielsen, maka bagi pemilik stasiun televisi dengan program segmented namun rating rendah pilihannya adalah: bertarung dengan program yang ringan-ringan saja atau bertahan dengan program yang ‘sulit’ dicerna?


– Nasib Media Berita Konvensional Versi Digital
– Kualitas Konsumsi Iklan di Media Digital
– Jalan Terjal Bisnis Media
– Perencanaan Media Berbasis Data

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here