Nasib Iklan TV dan Eksistensi Stasiun TV

0
379


ADVERTISING-INDONESIA.id – Jika kedudukan televisi sebagai media hiburan, berita dan informasi masih sedemikian kuat, mengapa keraguan terhadap peran iklan TV dan eksistensi stasiun TV terus berkembang?

Dalam dekade terakhir, kalau kita cermati pandangan para ahli media tentang masa depan televisi sebagai media iklan, kita seringkali mendengar bahwa era televisi sudah berakhir. Dalam tataran media landscape televisi masih tetap diperlakukan sebagai salah satu media yang dominan dalam menghadirkan berita, informasi dan ragam hiburan, namun peran televisi sebagai media iklan (TV Advertising) dinilai sudah memudar. Secara umum, brand masih memerlukan media yang mampu menghujani audiens dengan pesan-pesan iklan (precipitation), membangun persuasi, menguatkan hubungan brand dengan audiens dan membangun loyalitas. Iklan TV sejauh ini masih diakui sebagai alat komunikasi yang sangat atraktif sekaligus persuasif sehingga kedudukan televisi sebagai media iklan seharusnya tetap kokoh. Hal ini selaras dengan pandangan Marshall McLuhan sekitar 50 tahun yang lalu yang menyatakan bahwa medium adalah pesan. Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri, televisi masih sangat digemari, terbukti dari tingginya minat menonton masyarakat atau publik terhadap tayangan-tayangan televisi nasional Indonesia.

Jika kedudukan televisi sebagai media hiburan, berita dan informasi masih sedemikian kuat, mengapa keraguan terhadap peran iklan TV dan eksistensi stasiun TV terus berkembang? Kita boleh mencermati siatuasi ini melalui berbagai hal, diantaranya adalah:

1. Biaya penayangan iklan TV cenderung mahal
Biaya pembelian space iklan di berbagai stasiun televisi memang harus diakui cukup membuat ‘gentar’ sebagian besar pemilik brand. Dana senilai ratusan juta harus disediakan jika suatu brand ingin berbicara cukup kuat melalui layar kaca. Program-program Prime Time atau program yang ditayangkan pada jam tayang 19:00-22:00 berada di kisaran Rp. 35 juta hingga Rp. 65 juta per satu kali tayang untuk iklan dengan durasi 60 detik. Bahkan di salah satu stasiun TV angka ini bisa menyentuh Rp. 85 juta per sekali tayang. Dana sebesar Rp.1 miliar misalnya hanya cukup untuk membeli sebanyak 15 hingga 28 spot di jam Prime Time. Tentu pemilik brand akan memperoleh diskon atau saving value yang cukup besar (sekitar 20% hingga 50%) sehingga jumlah spot yang diperoleh kemungkinan bisa lebih besar. Jika biaya yang dikeluarkan sedemikian besar, apakah hasil setelah beriklan bisa dipastikan akan signifikan terhadap pembentukan awareness ataupun penjualan produk? Hal inilah yang menjadi salah satu dasar pertimbangan para pengiklan mulai menghindari penggunaan televisi sebagai media iklan. Brand-brand besar atau penguasa pasar memang masih terus menggunakan televisi dalam berkomunikasi dengan pasar, namun biayanya cenderung dibatasi sebab sebagian dialihkan ke media-media digital yang penggunaanya terus naik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here