Hindari Overconfidence, Berdamailah Dengan Client 

0
1355

Lanjutan Seni Mengelola Orang Kreatif dan Kreatifitas (Bag-2)

ADVERTISING-INDONESIA.id – Banyak pihak menilai bahwa pekerjaan atau tugas-tugas kreatif itu lebih bersifat subjektif termasuk copywriting dan graphic design. Adanya anggapan ini membuat client akhirnya terdorong untuk bertanya bahkan berulang-ulang mempertanyakan hasil-hasil karya kreatif karena mereka percaya bahwa opini subjektif mereka juga sama validnya.

Pola Pikir Bisnis Vs Pola Pikir Kreatif

Ilmu dan pengetahuan client tentang komunikasi, advertising bahkan kreatif diakui berkembang cukup pesat. Sekalipun demikian, dalam konteks kreatif, ilmu dan pengetahuan orang kreatif sudah pasti lebih mumpuni dan selaras dengan perkembangan teknologi media dan komunikasi (continuously updated). Kompetensi teknis orang-orang kreatif saat ini diakui sudah jauh lebih meningkat dibanding dekade-dekade sebelumnya. Demi eksistensi dan apresiasi, orang kreatif pasti menyesuaikan diri dengan perkembangan mutakhir industri advertising bahkan sebagian dari mereka secara sadar menimba ilmu di sekolah-sekolah advertising terkenal di luar negeri. Tapi kok, revisi yang dilakukan client malah semakin intens? Apakah client juga makin pintar soal kreatif? Termasuk copy dan layout? Apakah orang kreatif gagal menangkap aspirasi client?

Pola pikir bisnis yang diusung client dari mulai level top executive, product manager, brand manager, sales manager hingga tim komunikasi khususnya advertising manager jelas berbeda dengan pola pikir kreatif yang dimiliki orang kreatif. Disinilah kedua sumbu kepentingan itu bertemu dan beradu. Penyesuaiannya bisa memakan waktu lama, bahkan bisa berdampak kepada  pemutusan hubungan kerja atau partnership, dengan alasan ketidakcocokan atau client perlu penyegaran.

Pada level eksekusi, para C-level seringkali memiliki perhatian atau kepedulian yang berlebihan terhadap image korporasi. Seringkali mereka tidak mengetahui bahwa pembeli tidak akan terlalu perduli terhadap image korporasi namun lebih kepada  fitur dan benefit dari suatu produk atau jasa. Seringkali mereka juga lebih percaya terhadap selera atau opini mereka sendiri padahal buyers atau potential buyers pasti punya selera sendiri dan selera mereka itulah yang seharusnya diperhatikan dan dipenuhi.

Seringkali para C-level dan eksekutif marketing lain terlalu terlibat dengan hal-hal yang terlalu basic (nitty-gritty) termasuk mereview layout atau mengedit copy iklan. Seringkali perubahan yang mereka minta akhirnya menjauhkan iklan dari esensinya sehingga iklan kehilangan kekuatannya. Jika sudah sampai seperti ini maka iklan akan berpotensi gagal dan lagi-lagi agensi cenderung disalahkan. Terkadang copy yang kuat diganti dengan sesuatu yang sebetulnya lemah hingga yang akhirnya terjadi adalah pemborosan uang dan waktu. Ujung dari situasi ini adalah kebosanan audiens yang cepat terhadap iklan, penjualan yang menurun, dan menurunkan moral tim agensi.