Television Planning
Rating Game: Disadvantage Rating dan CPRP Bagi Stasiun Televisi

0
4988

ADVERTISING-INDONESIA.id – CPRP adalah konsep dasar pemilihan program TV berdasarkan efektifitas dan efisiensi biaya. Rumus dasarnya adalah cost (harga) dibagi dengan rating point suatu program TV. Harga yang dimaksud disini adalah ratecard atau harga yang ditetapkan oleh stasiun televisi untuk setiap pemasangan 1 kali iklan berdurasi 30 detik di setiap program, dimana tiap-tiap program memiliki harga sendiri-sendiri. Rating point adalah hasil pembagian antara jumlah penonton yang sedang menonton suatu program televisi pada jam tertentu dengan jumlah total populasi penonton televisi. Rating tidak disertai satuan, tapi dimaknai sebagai persentase.

Misalnya, jika suatu program TV yang sedang tayang pada jam tertentu disebut memiliki rating 10, berarti pada saat program tersebut sedang ditayangkan, ada 10 persen dari total populasi penonton televisi yang sedang menonton program tersebut.   Di Indonesia angka rating bisa diperoleh lewat Nielsen Indonesia yang melakukan survey tentang kepenontonan televisi  di 11 kota besar sebagai representasi penonton TV di Indonesia, survey ini disebut Nielsen Television Audience Measurement. Perlu diingat bahwa setiap kelompok audiens yang berbeda secara demografi mempunyai rating point yang berbeda-beda.

Jika harga pemasangan satu kali iklan berdurasi 30 detik di suatu program TV berdasarkan ratecard adalah Rp.10 juta rupiah dan rating program tersebut adalah 2, maka CPRP program tersebut adalah Rp. 5 juta. Artinya, lewat program ini kita bisa membeli 1 rating atau 1 persen penonton dengan harga Rp. 5 juta. Program televisi dengan rating di atas 1 merupakan favorit pengiklan, terlepas dari mutu isi program tersebut benar-benar bagus atau tidak, sebab rating adalah angka yang mengindikasikan jumlah penonton bukan isi program. Harga pemasangan iklan pada program dengan rating di atas 1 biasanya sangat mahal, sementara program-program dengan rating di bawah 1 atau program dengan rating nol koma, cenderung ditawar dengan diskon yang sangat tinggi. Mengapa demikian? Karena rating dianggap merepresentasikan preferensi penonton terhadap suatu program atau likeability suatu program.

                                                                                                                                          Pengiklan biasanya akan melakukan konversi harga iklan terhadap setiap program yang ratingnya di bawah 1, sehingga harga pokok pemasangan iklan bisa menjadi sangat jauh lebih murah dari harga yang ditetapkan oleh stasiun TV. Misalnya, harga pemasangan iklan yang dianggap pantas untuk sebuah program yang harganya Rp. 10 juta berdasarkan ratecard tapi ratingnya hanya 0.3, setelah dikonversi adalah Rp. 3 juta. Setelah didiskon, harga akhir pemasangan satu kali iklan dengan durasi 30 detik bisa menjadi hanya sekitar 1 juta per spot. Stasiun televisi akan semakin sulit beroperasi di tengah permainan rating dan CPRP, inilah yang disebut dengan Rating Game

Jelas bahwa rating bisa juga memberi banyak dampak buruk atau disadvantages bagi stasiun TV. Saat ini, jika merujuk kepada rating yang dihasilkan oleh sebuah badan survey, ada cukup banyak program televisi dengan rating di bawah satu, sekalipun program tersebut dinilai memiliki kualitas isi yang cukup baik. Program dengan rating di bawah satu akan selalu ditawar dengan harga murah. Padahal, jika rating di bawah 1 dikonversi menjadi head count maka program-program dengan rating di bawah 1 tampak memiliki jumlah penonton (head count) yang masih cukup banyak, tapi dalam permainan rating, rating sangat jarang dikonversi menjadi total head count.  Selamat berjuang program televisi dengan rating nol koma.

 

Berita terkait:
– Media Planning: Konsep Efisiensi dan Efektifitas Dalam Pemilihan Media
– Berperang Melawan “Robot” di Media Sosial
– Jerit Hati Fadhil, Agen Media Cetak Di Kawasan Blok M Jakarta
– Mari Belajar Matematika Media: Pelajaran #1 tentang CPRP