Media Tradisional
Meredupnya Nilai Pasar Media Lama

0
341
Media lama diakui memiliki nilai pasar dan ekonomi yang tinggi, namun dalam dua dekade terakhir terus menurun seiring dengan menguatnya media-media baru berteknologi digital. Hal ini membuat media lama dipaksa untuk terus memenuhi skala usaha yang ekonomis agar bisa terus bertahan, namun faktanya memang sudah sangat sulit.

 

Media dalam Industri Pasar Bebas

Market atau pasar suatu produk akan eksis atau akan selalu ada ketika pembeli senantiasa bersedia menukarkan uangnya untuk barang atau jasa yang ditawarkan penjual. Oleh karena itulah pasar akan terbentuk ketika permintaan dan penawaran berada dalam kondisi yang ideal dan kedua hal itulah yang disebut kebagai kekuatan fundamental pasar.

Di Indonesia, sekian lama pembeli bersedia menukarkan uangnya untuk membeli media-media cetak bernilai seperti Kompas, Tempo, Femina, Kartini, Gatra, Bisnis Indonesia, Jakarta Post dan lain-lain.  Pembeli juga dengan setia menikmati sajian media tidak berbayar seperti radio dan televisi FTA (free to air) yang menegaskan eksistensi pasar media-media tradisional di era sebelum merebaknya media-media digital atau media internet. Permintaan pasar relatif bisa dipenuhi oleh penyedia jasa media sehingga pasar media terbentuk dan terjaga dengan sangat baik.

Pasar adalah konsep dimana sistim ekonomi pasar bebas terbentuk, berjalan dan berkembang, dan dalam sistim ekonomi pasar bebas dan modern semua sumberdaya yang berkaitan dengan pemenuhan permintaan teralokasi dengan sangat intensif.

Media adalah produk komunikasi yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan pasar pembeli dan sekian lama sudah berada dalam sistim ekonomi pasar bebas.  Pembeli bertindak sebagai pembaca, pendengar atau penonton yang melakukan transaksi pembelian dengan leluasa. Media diakui berjasa dalam mencerdaskan dan membangun wawasan para pembelinya melalui berita, informasi, analisis, hiburan bernilai seperti musik, film, drama, dan jenis hiburan lainnya. Hal ini jugalah yang membuat media lama juga digunakan sebagai media promosi berbayar oleh ribuan produk dan jasa komersial.

Industri media adalah bagian dari ekosistim industri  komunikasi yang bebas dan luas sehingga secara agregat memberikan sumbangan yang besar terhadap pasar ekonomi nasional dimana media tersebut berada.  Sumberdaya yang bekerja di industri media lama terus berkembang dan bertahan selama puluhan tahun hingga bersama-sama dengan sumberdaya produksi lain menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi.  

Bisnis media juga berada dalam pusaran sistim ekonomi modern yang berkaitan dengan isu produksi, distribusi, konsumsi barang dan jasa serta kesejahteraan manusia.  Produksi media-media tradisional termasuk media cetak, radio, televisi, bioskop berlangsung dalam kontinuitas perkembangan teknologi yang memungkinkan semua media tersebut hadir memenuhi permintaan pasar dengan lebih cepat dan berusaha untuk terus adaptif dengan permintaaan konsumen.

Berkali-kali para pengusaha media tradisional dipaksa untuk terus bertahan mengikuti kondisi pasar yang berubah termasuk karena inflasi, naiknya harga barang-barang produksi, krisis ekonomi global hingga akhirnya saat ini dipaksa untuk menghadapi media-media baru berteknologi digital.   Sistim produksi dan distribusi konten media lama seperti media cetak berlangsung dalam dua bagian yang terpisah yaitu produksi konten dan distribusi.  Produksi konten media cetak berlangsung dalam bagian-bagian yang terdiri atas pengumpulan, pengeditan, kemudian pencetakan. Distribusi kemudian dilakukan dengan cara pengiriman hasil cetak melalui ekspedisi ke tempat-tepat penyebarluasan media atau titik-titik penjualan.  Semua dilakukan dengan manual dan mengandalkan sumberdaya manusia secara fisik. Pada dasarnya semua media lama melakukan sistim produksi dan distribusi yang mirip yaitu mengandalkan proses produksi dan distribusi yang terpisah