Transformasi Media Bukan Sekadar Menambah Platform

0
1473

ADVERTISING-INDONESIA.id – Kini media konvensional sudah tidak lagi terbatas pada platform yang sama. Hampir semua media konvensional memiliki platform digital seperti website dan sosial media. Namun seringkali permasalahannya adalah platform baru tersebut cenderung kehilangan “ruh” sehingga hanya dikelola apa adanya.

Padahal dengan adanya penambahan media digital atau sosial media sangat memungkinkan untuk menjelajah dan menemukan niche market yang baru setiap hari. Kekuatan hastag (#) bisa membantu untuk mencari ketertarikan yang baru dari pemirsa atau pembaca. Disinilah media sosial milik media konvensional perlu dikelola secara professional dengan strategi dan KPI yang terukur.

Membelah Hutan Belantara Sosial Media

Salah satu yang masih menjadi kelemahan platform digital dari pengembangan media konvensional adalah data yang ada di sosial media itu sendiri.

Salah satu yang masih menjadi kendala untuk mengukur kualitas dampak pemberitaan dari sosial media adalah lemahnya data.

Bagi pengelola sosial media, dengan adanya hastag sedikit banyak bisa membantu mencari readership yang ingin disasar. Misalkan issue dari media konvensional yang diangkat adalah HUT TNI. Maka sosial media milik media konvensional tersebut bisa menggunakan hastag #huttni, lalu dalam beberapa detik akan muncul di topic #huttni serta bagaimana tanggapan pengguna sosmed terhadap issue tersebut. Namun permasalahannya tidak sampai disitu. Potensi yang harus digali adalah berapa banyak kualitas komentar sebuah pemberitaan, berapa banyak link yang tersebar dan berapa lama issue tersebut bisa bertahan dan menjadi topik pemberitaan.

Salah satu yang masih menjadi kendala untuk mengukur kualitas dampak pemberitaan dari sosial media adalah lemahnya data. Masih banyak ditemui account di sosmed yang tidak bisa diverifikasi keabsahannya. Apalagi data account tersebut sangat banyak dan menjadi mayoritas dari komentar yang ada. Hal inilah yang masih menjadi kelemahan dari media dengan platform digital yaitu keabsahan data.

Butuh Tata Kelola Profesional

Mari kita lihat CNN Internasional. Kantor berita Amerika ini berawal dari media konvensional yaitu TV. Namun sejak era digital, CNN juga memiliki platform yang lain seperti Youtube channel maupun Facebook Page.

Facebook milik CNN terlihat dikelola sangat baik. Meskipun layout mengikuti template dari Facebook, namun secara konten ataupun isi pemberitaan tetap berbobot layaknya pemberitaan CNN di media konvensional yaitu TV. Melalui Facebook, nampak pemirsanya mampu berbagi menjaga dan memberi komentar yang berbobot sehingga menandakan kualitas isi pemberitaan CNN itu sendiri.

Menjaga kualitas pemberitaan di platform digital membutuhkan tata kelola yang profesional. Selain memahami kaidah jurnalistik dan media, pengelola sosial media milik media konvensional juga butuh pengelola yang paham tentang SEO, trending topic, memfilter interaksi dan terakhir mampu membuat platform tersebut menjadi lahan bisnis (monetized) untuk menghidupkan media.

Key Points:

Pemberdayaan media konvensional yang menggunakan platform digital membutuhkan tata kelola yang professional. Butuh pendekatan tersendiri agar media konvensional bisa diterima dengan baik oleh pengguna sosial media.

 

Berita terkait:
– Kompas Gramedia Luncurkan Portal Situs Otomotif Terbaru
– Seni Mengelola Orang Kreatif dan Kreatifitas
– Berpikir Kreatif Melampaui Masa Kini
Tantangan Mengintegrasikan Media Segmented Ke Dalam Media General