
| ADVERTISING-INDONESIA.id – Harris Thajeb, Chairman Dentsu Aegis Network ketika di wawancara Advertising-Indonesia pernah menjelaskan bahwa generasi milenial tidak serta merta langsung membeli produk dari yang diiklankan. Umumnya mereka akan bertanya dulu ke dalam peer group (teman sebaya) mereka, minimal mereka me-review produk tersebut di search engine seperti google. |
Pernyataan Harris Thajeb mengacu pada fakta yang terjadi bahwa di era digital saat ini terdapat jarak (gap) antara remaja sebagai potential buyer dengan orang tua mereka sebagai influencer sekaligus decision makers. Generasi milenial yang terkena terpaan teknologi begitu cepat punya opini bahwa orang tua mereka cenderung tidak memahami brand maupun produk yang ada di era milenial saat ini.
Terpaan teknologi serta platform digital membuat orang tua tertinggal dengan anaknya yang sudah akrab dengan smartphone. Kondisi ini biasa terjadi di era digital saat ini. Anak-anak jaman sekarang atau sedang tren disebut “Kids Jaman Now” menganggap orang tua mereka terlalu lambat untuk mempelajari teknologi apalagi di usia remaja faktor psikologis menambah mereka semakin tidak sabar. Lalu apa yang terjadi ketika “Kids Jaman Now” melihat iklan?
Bagaimana caranya membuat iklan yang memiliki “Stoping Power” dan punya daya persuasi yang benar-benar berdampak kepada target.
Umumnya, remaja yang ingin membeli produk yang ada di iklan akan meminta pendapat kepada orang lain. Pendapat itu jika dibagi per layer, kemungkinan besar mereka pertamakali akan bertanya kepada teman-temannya ada ada didalam peer group mereka melalui social media yang ada di smartphone. Setelah mendapatkan kesimpulan, barulah mereka meminta pendapat kepada orang tua. Atau bahasa lainnya adalah “membujuk” orang tua.
Orang tua saat ini yang memiliki anak usia 12 – 20 tahun tentu menyadari bahwa mereka bukan lagi pengambil keputusan. Mereka pada akhirnya menempatkan diri sebagai pemilik uang dimana keputusan terakhir dari permintaan anak, ada di orang tua dan orang tua semacam ini sudah cukup bahagia bahwa mereka tetap punya kendali, terutama dari uang yang dikeluarkan untuk anak mereka.
Bagi praktisi di periklanan, dengan adanya realitas seperti ini, tentu mendapat tantangan baru. Iklan bukan lagi sekadar membuat kreatif dan menayangkan di media massa. Tetapi kembali lagi, esensi iklan itu sebenarnya adalah membangun persuasi. Persuasi dengan pendekatan yang natural dan manusiawi dikemas dengan kreatifitas yang penuh makna. Kini, saatnya para praktisi periklanan untuk berpikir lebih keras, bagaimana caranya membuat iklan yang memiliki “Stoping Power” dan punya daya persuasi yang benar-benar berdampak kepada target.

![]()
– Menangkan Perang Harga dengan Mempertajam Pesan
– “Powerful Copy” Menjadi Kekuatan Iklan Legendaris





























