Masyarakat Indonesia Semakin Rasional

0
1716


ADVERTISING-INDONESIA.id – Sejak era Jokowi dimulai tahun 2014, banyak perubahan yang terjadi. Berawal dari kenaikan Dollar ke kisaran Rp. 13.000,- membuat sebagian industri kalang-kabut. Sebagian besar perusahaan belum siap terhadap dampak perubahan kurs Dollar. Hasilnya? Perusahaan mengalami gulung tikar dan terpaksa merumahkan pegawainya.

Dampak resesi sebagian industri ini kemudian ditolong oleh program BPJS dimana Jokowi menjelaskan bahwa kesehatan menjadi hal yang mendasar untuk membangun Indonesia yang lebih maju. Dari program BPJS, masyarakat masih bisa menabung dari uang yang sebelumnya digunakan untuk pos kesehatan. Untuk beberapa hal, belanja di e-commerce lebih murah ketimbang beli di supermarket. Transportasi menjadi lebih mudah meski tidak juga murah, namun fasilitas transportasi yang dibangun pemerintah cukup mendukung produktifitas

Tekanan yang dirasakan masyarakat, mau tak mau mengakibatkan masyarakat berpikir realistis sekaligus berpikir lebih panjang. Hal itu berdampak pada alternatif pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin banyak. Sehingga membuat brand dan produk bersaing lebih ketat terutama dari sisi harga.

Berdasarkan survey Nielsen menjelaskan bahwa kontribusi menabung masing yang terbesar yaitu sebesar 24% berbanding dengan kontribusi membeli makanan yaitu 21%. Dengan kata lain, masyarakat saat ini memiliki 2 aktifitas terbesar yaitu antara menabung dan makan.

Rasionalitas masyarakat Indonesia semakin nyata. Terbukti dari meningkatnya belanja iklan namun tidak mendorong belanja meningkat secara signifikan.

Nielsen telah melakukan survey di 11 kota di Indonesia dengan jumlah responden mencapai 8400 responden. Survey ini dilakukan pada kwartal pertama 2017 vs kwartal pertama tahun 2016.

Rasionalitas masyarakat Indonesia semakin hari semakin nyata. Terbukti dari meningkatnya belanja iklan di TV dan Print namun tidak mendorong belanja meningkat secara signifikan. Rapuhnya situasi politik membuat sektor ekonomi lebih berhati-hati. Begitupun dengan masyarakat yang juga berhati-hati dalam membelanjakan uangnya karena gejolak politik bisa terjadi sewaktu-waktu, apalagi menjelang tahun 2018 dimana itu menjadi tahun politik karena adanya Pilkada serentak.

Bagi industri advertising, perlu mencari referensi baru dalam mengkomunikasikan brand dan produk. Berbagai referensi seperti negara-negara maju dimana masyarakatnya lebih rasional memilih brand dan produk bisa menjadi studi kasus bagi industri advertising di Indonesia.

Sumber: Data Nielsen 2017
Berita terkait:
– Tantangan dan Peluang Periklanan di Kwartal Terakhir 2017
– Rating Game: Disadvantage Rating dan CPRP Bagi Stasiun Televisi
– Sulitnya Membuat Iklan Kondom
– Berperang Melawan “Robot” di Media Sosial