Hanya Menjual “Media Cetak yang Pasti-Pasti” Saja
Bagi Sodikin dan Muslih, di usia senja mereka sudah tidak tahu lagi apa yang bisa mereka lakukan. Dunia berubah dan hidup pun tergerus zaman. Sekarang Sodikin dan Muslih hanya berani menjual media yang masih ada pembelinya, seperti Kompas, Bisnis Indonesia, Harian Terbit dan Warta Kota. Sesekali mereka menjual tabloid Top Skor di saat acara besar. Contohnya ketika ada tim atau club sepakbola internasional datang ke Jakarta untuk bermain di Gelora Bung Karno, maka disitulah mereka berani menjual Top Skor lebih banyak. Tapi diluar acara itu? Mereka tidak berani menjualnya.

Advertising-Indonesia.id meliput kegiatan Sodikin dan Muslih sambil menanyakan apa yang menurut mereka penyebab turunnya omzet penjualan, bahkan tutupnya agen-agen koran di Jakarta? “Rata-rata pelanggan kami sudah mendapatkan informasi dari handphone,” ungkap Muslih. Selain tergerus oleh digital, soal harga juga menjadi dilema. “Misalkan untuk majalah anak-anak yang seharga 50 ribu, ibu-ibu sekarang tidak mau lagi membelikan majalah seharga itu. Lebih baik belikan gadget untuk anaknya,” jelas Sodikin.

Kenyataan profesi yang mereka hadapi saat ini benar-benar sulit. Apalagi dari penerbit tidak ada solusi bagaimana caranya untuk bisa bertahan dari era digital saat ini. Hal lain yang membuat sedih Muslih, Sodikin ataupun agen-agen koran lainnya adalah, tidak sedikit media yang tutup namun tidak memberitahukan mereka, sehingga Sodikin maupun Muslih merasa benar-benar ditinggalkan tak berdaya.
![]()
– Jerit Hati Fadhil, Agen Media Cetak Di Kawasan Blok M Jakarta
– Media Planning Konsep Efisiensi dan Efektifitas Dalam Pemilihan Media
– Mengelola Media Konvensional Cetak Dengan Semangat Disruptive
– The 1st Media Planners Forum Menghidupkan Kembali Ekosistem Industri Media dan Agency di Era Digital




























