
Muncul Kejenuhan Pada Media Konvensional dan Media Sosial
Kejadian tentang bagaimana tren dunia akan beralih ke Podcast bukan hal yang tidak diprediksi sebelumnya. Faradi Bachri, Head of Digital Dentsu X pernah mengatakan bahwa masa depan media ada di suara. Pandangan tersebut sangat besar kemungkinannya terjadi karena faktor adanya pilihan media selain media konvensional yaitu media sosial. Namun media sosial pun juga akan mengalami kejenuhan sebagai dampak dari begitu banyaknya berita HOAX yang tersebar sehingga mengaburkan isi yang sebenarnya.
Di tahun depan, voice berpeluang untuk tumbuh lebih besar. Berangkat dari media konvensional seperti radio yang berdasarkan survey Nielsen pada Juli 2017 lalu menyebutkan bahwa dari hasil surveynya, radio mampu bertahan lebih baik ketimbang media cetak. Publik saat ini masih mendengarkan radio yang dimana basisnya adalah “voice” atau suara. Dari survey tersebut orang masih mendengarkan radio di rumah, mobil, hingga ruang kerja. Hanya saja, yang terjadi perubahan adalah platform yang digunakan pendengar radio. Dari yang awalnya diciptakan melalui platform radio, kini sebagian orang mendengarkan radio melalui “live streaming“, smartphone dan juga radio dalam mobil.
Kini, program talkshow yang dilakukan oleh Oprah sejak belasan tahun yang lalu juga memiliki peluang yang sama seperti radio yaitu berbasis voice atau suara. Hanya saja, untuk program seperti talkshow saat ini dibuatkan dalam format Podcast. Dengan mendengarkan suara, orang bisa mengakses dari mana saja. “Theater of Mind” dimana imajinasi dan persepsi pendengar bisa menjadi sesuatu yang sangat personal untuk pendengarnya. Ibarat membaca buku novel (format teks) dijaman 90-an seperti Brigdet Jones Diary karya Helen Fielding, Lord of The Rings karya J.R.R Tolkien atau Famous Five karya Enid Blyton namun kini ada dalam pilihan platform suara dan tak perlu lagi membaca.
Pada prinsipnya semua media memiliki peluang untuk mendapatkan porsi iklan. Untuk kasus Oprah Winfrey tentu kembali kepada persona sang pembawa acara atau presenter (host, red) dan isi program. Kepribadian presenter dan isi program sangat berpengaruh terhadap berapa banyak pendengar yang ingin mendengarkan program tersebut via Podcast. Semakin bagus sebuah isi Podcast maka semakin besar pendengarnya.
Di Indonesia ada beberapa program talk show yang bertahan lama. Contohnya seperti program Kick Andy atau Mata Najwa di Metro TV. Bagi, Mbak Nana atau panggilan dekat Najwa Shihab, langkah yang dilakukannya mirip dengan Oprah. Mbak Nana baru mulai beralih ke platform YouTube channel dengan nama Najwa Shihab. Channel Najwa Shihab baru memiliki 105 ribu Followers. Namun, apakah dengan perubahan tren ini Mbak Nana akan mencoba ke platform suara via Podcast? Aah, rasanya zaman berubah terlalu cepat…




























