
Vape Menambah Rumit Pesan
Permasalahan dalam dunia pesan rokok dan anti-rokok semakin kompleks ketika hadir Vape. Vape diklaim bukan rokok namun memiliki pola konsumsi seperti rokok yaitu dihisap. Tentu sudah banyak diketahui bahwa pengguna Vape saat ini, dulunya adalah perokok. Perokok yang sadar bahwa rokok itu berbahaya dan merokok sudah menjadi kebiasaan. Namun mereka belum bisa berhenti dari kebiasaan merokok.
Apakah anti-iklan rokok sudah berhasil mengkomunikasikan pesannya? Jawabnya iya. Lalu apakah orang bersikap untuk berhenti merokok? Sebagian berhenti merokok karena isi pesan anti rokok. Tapi sebagian lagi berhenti merokok namun beralih ke Vape karena faktor kebiasaaan merokok dengan berharap Vape tidak berbahaya. Mau bilang apa? Pada kenyataannya seperti itu.
Kehadiran Vape di Indonesia tanpa iklan besar-besaran ternyata mampu diterima perokok. Bahkan mereka berani bersikap: “Saya sudah berhenti merokok. Tapi sekarang saya menghisap Vape”. Dari hipotesis tersebut menjelaskan bahwa mengubah kebiasaan sungguhlah sulit, sangat sulit. Namun jika bisa mengkomunikasikan pesan bahwa ada alternatif produk yang bisa memuaskan kebiasaan, maka itu jadi alternatif solusi.
Semakin banyak orang merasakan dan mengalami manfaat yang baru, maka disitulah orang akan menyatakan sikapnya. Jadi jika Anda memiliki target audience yang sudah memiliki kebiasaan, maka cobalah untuk mengkomunikasikan kebiasaan tersebut dengan manfaat baru hingga tujuan Anda adalah mengubah sikapnya.
Sumber: (Dari berbagai sumber)
Foto: Wallpapershome/DitavonTeese
![]()
– Viral Marketing: Antara Keinginan dan Kemampuan
– Menyatukan Generasi Periklanan ‘Zaman Old’ dan ‘Zaman Now’
– Advertising & Digital; Agar Kreatifitas Tidak Ditawar Murah oleh Client
– Peluang Media di Tahun 2018 Tahun Kredibilitas Media
– Masa Suram Media Cetak di Tahun 2017




























