
Dilain kesempatan CEO Blibli Kusumo Martanto mengakui, produk lokal yang di jual oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM) masih minim. Dari catatannya, total 2,5 juta produk yang ada penjualan UKM baru sekira 50-100 ribu produk di Blibli.com.
“Jadi secara persentase masih kecil. Sampai kami bikin kategori khusus Galeri Indonesia, supaya pembeli bisa lihat produk lokal yang bagus-bagus,” katanya dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan, di Hotel Borobudur, Jumat (2/2) siang.
Kusumo melanjutkan, Blibli sangat mendukung pengembangan UKM supaya produknya bisa dijual baik di dalam negeri hingga ekspor. Misalnya, dengan membuat perlombaan online untuk produk lokal yang berkompeten.
“Kami juga berkomunikasi dengan Google, Facebook, sebagai perusahaan raksasa, kami minta untuk ajari teman-teman kecil soal advertising (periklanan). Hasilnya yang ikut perlombaan season I ada 13.000 lokal produsen, season II ada 20 ribu lebih,” ujarnya.
Hanya saja, kata Kusumo, dilihat dari penjualan UKM yang terus menanjak, tetap ada kekurangan. Pertama, UKM kebingungan soal permodalan, karena ketika penjualan menanjak, modal untuk membeli bahan baku kurang. Kedua, konsistensi sisi kualitas produk UKM yang tidak stabil.
“Kebanyakan industri rumah tangga kalau order 100 per hari oke, begitu 1.000 kelabakan. Mau cari orang bantu takutnya gak kuat bayar. Akses modal, maish kurang dan konsitensi kualitas,” katanya.
Ketiga, packaging mindset yang masih kurang. Biasanya, UKM menganggap kemasan produk itu biaya besar, padahal bila melihat produk di Taiwan, Jepang dan Korea, dengan barang yang belum tentu bagus, namun kemasan yang disajikan begitu bagus.
“Jadi bagaimana stakeholders ini meningkatkan pengertian packing bagus, apalagi jualan online gak bisa pegang, dan lainnya,” lanjutnya.
![]()
– Dirgahayu ke-50 di Indonesia, Citibank Ajak 50 Nasabah Nonton FIFA World Cup 2018 di…
– Dua Model G-SHOCK 35th Anniversary Diperebutkan Oleh 3.000 Orang
– Survey Nielsen ADEX 2017: Peluang Beriklan di Momentum Piala Dunia
– Survey Nielsen ADEX 2017: Pertumbuhan Iklan Didorong oleh Kenaikan Harga “Gross Rate”




























