
|
|
Brand tersebut biasanya mempercayakan sebuah perusahaan distribusi besar di Indonesia untuk memasarkan produknya. Distribusi ini umumnya menguasai Jawa dan Sumatera kemudian dikembangkan ke pulau lain seperti Kalimantan dan Sulawesi. Semua aktifitas distribusi tersebut lebih fokus kepada aktifitas sales atau penjualan.
Seringkali perusahaan distributor merasa terlalu percaya diri alias over confidence karena merasa bahwa secara brand sudah dikenal luas. Namun setelah sekian lama waktu berjalan, permasalahan yang rutin ditemui adalah: penjualan tidak tumbuh. Padahal dari strategi di retail sudah seringkali memberikan diskon produk lebih dari 30% dan ada juga yang memberikan cash back secara real tim, 6 bulan bahkan 12 bulan. Pedagang retail awalnya merasa senang dengan program-program sales, namun perlahan mulai merasakan bahwa omzet produk yang ia jual mulai menurun. Dalam pikiran pedagang hanya sederhana yaitu; “Merk ini kurang promosi ke konsumen”. Itulah kalimat sederhana namun begitu begitu panjang untuk dipraktikan.
Seringkali distributor merasa bahwa aktifitas branding hanya penting di awal-awal pendistribusian. Setelah itu branding tidak lagi dianggap penting. Padahal brand itu sama halnya seperti nafas. Ia tidak bisa terputus, hanya sesekali butuh nafas cepat dan sesekali nafas lambat. Untuk itulah peran seorang Account Management untuk mengedukasi perusahaan distribusi betapa pentingnya aktifitas brand di tingkat lokal.
Branding di tingkat global memang cukup membantu namun perlu dicermati lebih mendalam dari aktifitas global branding. Mulai dari pesan apa yang disampaikan, bagaimana kreatifitasnya dan berapa banyak TARPS yang dilakukan brand owner secara global?
Branding secara global memang cukup membantu untuk memahami struktur brand kepada audience namun perlu juga dipahami bahwa karaktersitik konsumen Indonesia yang cepat terpengaruh oleh iklan apalagi dengan iming-iming harga murah.




























