HUT Pers Nasional ke-70
Profesi di Senjakala (Bag. 1)

0
1406


ADVERTISING-INDONESIA.id – Istilah ‘senjakala’ mendadak popular ketika @ndorokakung mem-posting di Twitter miliknya sebuah link tentang nasib media cetak sedang di ujung tanduk. @ndorokakung sebagai seorang wartawan senior bahkan klaim bawah dirinya sekarang sudah menjadi social journalist. Apakah dengan menambah kata ‘social‘ menandakan bahwa profesi ‘Jurnalis’ saja kurang sexy?

Media Cetak Kehilangan “Medianya”

Sejak Pemilihan Presiden RI kemarin, peran dan efek Twitter dan Facebook semakin bertambah kuat, media cetak seolah kebingungan. “What should we do (again)?”  Disaat itulah, dengan sedikit panik, media cetak ramai-ramai ikut-ikutan posting berita ke Facebook. Padahal postinglink berita media cetak di Facebook tidak akan membawa efek yang besar tanpa diiklankan atau minimal dengan judul konten berita yang fenomenal. Pasang saja judul yang bombastis; “Laut Mati di Israel Bisa Hidup!” Oh yeah?! Bombastis, iya. Tapi siapa yang percaya dengan judul ini? Efeknya adalah; publik malah mempertanyakan kredibilitas media cetak tersebut. Pada akhirnya, media cetak mencari medsos sebagai medianya karena kecepatan dan kemudahan untuk diakses.

Sebuah grup perusahaan media cetak nasional di Indonesia bahkan mengakui bahwa sudah 80% media cetak yang ada di grup perusahaan media cetak tersebut tutup. Padahal di dalam grup tersebut memiliki lebih dari 10 media cetak, plus memiliki percetakan sendiri. Tapi hebatnya percetakan itu sekarang surplus karena sejak 2015 melakukan diferensiasi dengan mengerjakan order selain cetak media.

“Media Darling” Lebih Cinta Medsos

Apakah sudah pernah ada yang mengukur, berapa kali Setya Novanto tampil di kompas.com atau detik.com? Atau sudah ada berapa followers dan komentar yang ada di Instagram Ayu Ting Ting sejak ia menggunakan media sosial ini? Atau mungkin Instagram Lambe Turah yang hits dengan Paparazi yang bermantra; “Dengan kekuatan handphone jadul…”? Hasilnya fantastis! Bisa saja kita menghitung Cost per Mille untuk sebuah iklan bisa lebih murah pasang di medsos artis daripada pasang di media cetak.

Jokowi, Ahok, Fadli Zon, Anies Baswedan hingga Jennifer Dunn itu layak disebut “Media Darling.” Mereka adalah kesayangan media. Mereka mau marah, tertawa bahkan menangis pun menjadi komoditas bagi media. Efek “Media Darling” ini luar biasa. Menurut saya, “Media Darling” ini bisa menjadi teori baru untuk bidang jurnalistik yang bisa melengkapi teori “Agenda Setting,” “Uses & Gratification” atau “Framing.” Dulu pernah ada tayangan video di YouTube  “A Deep Interview Dedy Corbuzier dengan Mulan Jameela” yang baru 3 minggu ditayangkan sudah mencapai 2,6 juta views. Wow!

Setiap orang kini sudah bisa memiliki media sendiri dan “Media Darling” seperti mereka kini bisa mengelolanya sendiri dan menjadi bisnis yang menguntungkan. Mulai dari Instagram, YouTube hingga Facebook. Lalu, seperberapa persen media cetak bisa mengungguli kekuatan media sosial?

Medsos Sang ‘Ideologi’ Baru

Iya sih, namanya medsos. Target pembaca mereka adalah masyarakat (society) dan medianya adalah program aplikasi dan sekelasnya melalui alat smartphone. Bah?! Kenapa jadi sulit sih mendefinisikan Medsos? Medsos ini menurut saya sebuah ideologi. Sama seperti komunisme ataupun demokrasi yang memiliki sistem dan saling terkait serta memiliki pengaruh. Dengan medsos, informasi menjadi bersifat global dan serupa.

Media massa konvensional yang dikenal sebagai “The Watch Dog” atau pengawas sebuah sistem kekuatannya kini menjadi lemah. Media massa konvensional tak berdaya menghadapi media sosial karena medsos sendiri adalah “The New Media.” Istilahnya, bagaimana mungkin media mengawasi media?

Redaktur Bernama ‘Programmer’

Di media massa cetak ada beberapa hierarki karir pekerjaan mulai dari Carep (Calon Reporter), Reporter, Redaktur, Editor Bahasa hingga Pemimpin Redaksi. Semua punya peran dan tanggungjawab sendiri. Namun jika sudah berekspansi ke media online maka media konvensional dituntut untuk memiliki profesi tambahan.

Kini, seorang Programmer terlibat diantara kesibukan di tim redaksi media online. Ia harus memikirkan bagaimana membuat program yang menarik pembaca dan ia harus bersaing dengan puluhan program lainnya dalam sehari. Bahkan terkadang ia sendiri yang harus memikirkan semua. Mulai dari konsep hingga eksekusi. Jika salah eksekusi, bisa-bisa dia yang dieksekusi, uhuk!

Tak ada pilihan. Jika media cetak tersebut ingin selamat, mau tak mau berbagai cara harus dilakukan. Minimal media cetak tersebut bertransisi menjadi sebuah media baru di dunia online atau mati perlahan.

 


Profesi di Senjakala (Bag. II – Tamat)
– Media Cetak Dinilai Sebagai Media yang Lebih Dipercaya
– Media Cetak Menjemput Ajal
– Menanti Gong Terakhir Bisnis Media Cetak