HUT Pers ke-70
Profesi di Senjakala (Bag. II – Tamat)

0
1587

 

Antara Gaji & ‘Sampingan’

Waini! Ini yang rada sulit. Saya pernah bekerja di media massa dan pernah juga bekerja di creative agency. Seorang gaji reporter dengan copy writer memiliki perbedaan. Iya saya tahu, memang kedua profesi ini tidak bisa dibandingkan. Namun di saat media cetak mengalami perubahan (baca: krisis) gaji itu mungkin diambang batas cukup. Anu, maksudnya makan cukup, transport cukup. Hanya kurang tidur saja…

Jaman dulu saja, banyak reporter yang istilahnya mencari kerja sampingan menjadi penulis lepas dengan alasan gaji dikantornya tidak cukup. Sekarang seorang reporter bisa merangkap MC, penulis buku, blogger, barista dst. They do anything! Pokoknya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya semakin yakin bahwa menjadi wartawan itu memang panggilan jiwa. Sama seperti dokter yang dinas ke pelosok daerah. Kami sama-sama bekerja dibawah sumpah yaitu sumpah kode etik.

Ini bagian terakhir dari opini saya tentang profesi wartawan media cetak di saat ini. Saya percaya bahwa manusia memang diberi akal untuk bertahan hidup dan mampu unggul dalam kehidupan.

Mencari Pasar Pembaca Baru

Ditengah-tengah perubahan media massa cetak saat ini, butuh terobosan baru. Berbagai medium baru dicari termasuk memanfaatkan sosial media sebagai medium (media) baru. Bedanya, media sosial ini membutuhkan perlakuan tersendiri. Ia tidak seperti kertas koran atau kertas majalah yang putih bersih dan masih kosong. Sosial media itu menurut saya bagaikan lautan dimana wartawan harus tahu arah angin, membaca peta, serta mengetahui perilaku ikan dibawah air laut. Semua peristiwa dilautan menjadi terhubung. Minimal kita bisa merasakan ombak ataupun gelombangnya.

Namun itulah peluang memanfaatkan media sosial sebagai bagian dari media massa , khususnya media cetak. Sama seperti mencari pasar pembaca yang baru. Tapi tentu saja, ketika berbicara karakter pembaca media sosial dengan media cetak ada berbedaan. Namun perbedaan itu jangan dijadikan sebagai alasan untuk mengganti positioning media cetak. Percaya diri saja dan hadapi perubahan.

Bagi media cetak, perubahan adalah keharusan. Tidur terlalu lama tentu tidak baik. Maka kini saatnya bangun dan bergerak cepat mengikuti perubahan dan tentunya mengejar target pembaca di media manapun dan apapun. Bagaimanapun kami mengucapkan terimakasih kepada wartawan-wartawan media cetak yang telah gigih berjuang mencari berita dan bertahan hidup dengan di masa. Terimakasih kawan…

 


– Profesi di Senjakala (Bag. 1)
– Meneropong Nasib Media Cetak di Tahun 2018
– Menanti Peta Arah Beriklan di Dunia Digital
– Radio, Media Yang Masih Kuat Dan Relevan