
| ADVERTISING-INDONESIA.id – Dalam situasi tertentu, reaksi kita terhadap suatu objek bisa terbentuk dengan sangat cepat kalau skema berpikir kita sangat mudah diakses atau mudah berasosiasi dengan informasi yang kita tangkap. Ketika topik suatu pembicaraan tampak menarik, mengena atau relevan dengan diri kita maka kita akan jauh lebih menerima dan mengolahnya dengan cepat. |
Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi termasuk informasi-informasi yang sangat kompleks hingga kadang-kadang kita merasa tidak mungkin lagi menerima tambahan informasi. Dari sejak bangun pagi hingga di jalanan menuju kantor kita diperhadapkan dengan informasi-informasi yang terus bergulir memasuki benak kita. Kita tidak mungkin menolak informasi yang menerjang benak kita kecuali kita benar-benar menutup diri terhadap serbuan informasi seperti misalnya: memutuskan tidak membaca koran sama sekali, tidak menyalakan radio sepanjang perjalanan, tidak menatap jejeran billboard di pinggir jalan dan tidak menonton siaran atau program televisi. Hingga kemudian tidak menggunakan internet sama sekali serta menutup ruang diskusi.
Hal seperti itu jelas sesuatu yang tidak mungkin. Kita adalah mahluk komunikasi yang hidup dalam ruang komunikasi padat namun juga jelas tidak mungkin menampung semua informasi yang mencoba masuk ke benak kita. Dalam situasi banjir informasi seperti ini kita dituntut untuk menerapkan strategi mengolah informasi yang tepat guna di benak kita.
Dalam menangkap dan mengolah informasi, setiap orang umumnya berpikir secara skematik. Berpikir skematik adalah cara berpikir yang sangat umum, normal dan terjadi oleh karena kebiasaan. Pada umumnya, manusia hanya akan menyeleksi informasi yang dianggap benar dan berguna serta membuang informasi yang tidak bermanfaat. Informasi yang terseleksi tersebut kemudian disesuaikan dengan skema-skema kognitif yang sudah terkonstruksi berdasarkan informasi sebelumnya yang mirip atau sejenis. Proses inilah yang disebut sebagai berpikir skematik.
Pada saat menggunakan pola berpikir skematik, seseorang pada dasarnya sedang menggunakan pola berpikir yang menyerupai bagan atau kerangka berpikir berstruktur. Berpikir secara berurutan seolah menyiratkan kompleksitas berpikir seseorang namun sesungguhnya hal tersebut justru akan memberikan nilai kecermatan yang tinggi. Ketika informasi yang kita terima merupakan informasi yang sudah sering muncul di benak kita atau kita merasa familiar dengan informasi tersebut, maka pikiranpun akan menyerapnya dengan mudah dan jika hal ini terjadi maka sesungguhnya skema berpikir kita bekerja dengan baik.
MENGAJAK STAF BERPIKIR SKEMATIK
Para staf yang bekerja sesuai profesi masing-masing juga diharapkan berpikir dengan cara berpikir skematik. Ketika sebuah gagasan dilontarkan untuk didiskusikan maka dalam konteks berpikir skematik setiap orang akan bereaksi sesuai dengan struktur pesan yang ada dalam benaknya. Seseorang yang berpikir skematik akan selalu berusaha menangkap informasi dan mengolahnya secara terstruktur. Diskusipun akan mengalir sesuai dengan kerangka berpikir sistimatis yang dimiliki setiap orang. Cara berpikir skematik harus dibiasakan dan diberdayakan. Ketika seorang staf tidak memiliki daya berpikir skematik ini maka beragam informasi yang dia tangkap akan terlewat dan tidak teranalisis sempurna bahkan membuang atau mengabaikan informasi begitu saja. Orang tersebut dianggap memiliki skema berpikir yang selalu berorientasi negaif atau malas berpikir.
Misalnya, ketika suatu perintah disampaikan dan diminta untuk dilakukan, maka orang yang tidak menggunakan skema berpikir positif tidak akan menuruti perintah tersebut dengan baik karena di dalam pikirannya terbentuk skema berpikir yang mengabaikan makna perintah dan menempatkan pemberi perintah berada dalam skema buruk.
Seorang manajer bisa dianggap berada di luar skema positif atau sulit diterima sebagai seorang pengayom atau seseorang yang bijak ketika skema yang terbentuk adalah sosok manajer yang tidak berwibawa, membosankan atau tidak inspiratif. Sebaliknya, kita sering mengasosiasikan pimpinan sebagai seseorang yang bijak dan penuh wewenang berdasarkan skema positif masa lalu yang terbentuk terhadap sosok tersebut.
Skema berpikir seseorang mungkin saja sudah out of date atau sudah ketinggalan masa sehingga informasi atau gagasan baru yang disampaikan tidak pernah terhubung dan yang muncul justru kebosanan atau keengganan diskusi. Skema berpikir bisa diasah lewat bacaan-bacaan bermanfaat dan sering melibatkan diri dalam diskusi-diskusi berkelas. Jika di sekitar anda terdapat orang atau rekan kerja yang skema berpikirnya sudah ‘usang’ bukan saja skema berpikirnya yang perlu diperbaiki namun mungkin saja orang tersebut perlu diganti. Persaingan dunia bisnis modern menuntut setiap orang memiliki skema berpikir yang tidak terkotak, monoton atau kaku.
| Berita terkait: |
| – Pemahaman Awal Tentang Disruption |
| – Menjawab Tantang Besar Profesi Account Management |




























