QUO VADIS Industri Periklanan Indonesia

0
1584

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ADVERTISING-INDONESIA.idMasa keemasan Full Service Agency telah berlalu. Dalam satu dekade terakhir Creative Specialist dan Media buying and planning Specialist mengambil alih peranan mereka dengan sangat signifikan. Berbagai biro-biro iklan Nasional ternama berbasis full service tidak kuasa menahan perubahan model bisnis industri periklanan bahkan banyak yang terpaksa harus membubarkan diri karena tingginya biaya operasi yang tidak lagi bisa ditutupi oleh semakin rendahnya operating revenue.


Sejarah dan perkembangan perusahaan periklanan atau biro iklan tidak lepas dari jasa para jagoan kreatif yang menggulirkan ribuan gagasan dan eksekusi iklan yang brilian. Mereka dikenal piawai dalam menciptakan pengenalan brand, membangun preferensi konsumen, mendorong konsumsi hingga mempertahankan loyalitas brand.

Diantara ratusan nama-nama hebat tersebut sebagian dari mereka dikenal dengan sangat luas seperti Batten, Barton, Durstine & Osborn (BBDO), James Walter Thompson (JWT), Leo Burnett (LB), Ted Bates, David Ogilvy, Doyle Dale Bernbach (DDB), McCann. Bisnis periklananpun diakui sebagai bagian utama dari berkembangnya bisnis di era kapitalis sejak pertengahan abad 19.

Ribuan iklan yang diciptakan oleh ahli-ahli strategi periklanan bergulir menggempur benak audiens dan dinilai sukses dalam menumbuhkan interaksi emosional dan rasional brand dengan audiens. Perilaku bisnis yang sehat dan masih kuatnya prinsip saling menghargai diantara pelaku bisnis periklanan membuat bisnis periklanan melaju dengan sangat cepat. Ribuan mahakarya kreatif bisnis periklanan seolah berkelindan dengan kesuksesan perusahaan dalam membangun brand dan keuntungan bisnis. Industri Media dan Periklanan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Diantara ratusan nama-nama hebat tersebut sebagian dari mereka dikenal dengan sangat luas seperti Batten, Barton, Durstine & Osborn (BBDO), James Walter Thompson (JWT), Leo Burnett (LB), Ted Bates, David Ogilvy, Doyle Dale Bernbach (DDB), McCann.

Sebagai pihak yang memanfaatkan jasa biro iklan, pengiklan tidak merasa keberatan membayar mahal proses pekerjaan kreatif. Pengiklan bahkan membayar mahal Agency Service Fee atas layanan media planning dan buying sekalipun pada awal sejarah bisnis periklanan kompleksitas media landscape masih belum serumit era digital sekarang ini.

Para pelopor perusahaan periklanan memang dikenal memiliki misi yang sangat kuat dalam memberikan layanan penuh atau sebagai Full Service Advertising Agency. Mereka adalah biro iklan yang melayani tidak saja pembuatan materi kreatif iklan namun memberi layanan lengkap media planning dan buying dalam satu atap. Bahkan, saat ini mereka kemudian berinisitafif memperluas layanannya hingga ke brand activation dan digital services.

Era modern bisnis advertising ditandai dengan bangkitnya berbagai biro iklan kelas dunia dengan layanan penuh atau World Class Full Service Agency seperti McCann Erickson, Bates, Dentsu, O&M, BBDO, DDB, FCB, JWT, TBWA, Hakuhodo, Y&R, Saatchi dan lain-lain. Biro-biro iklan ini bahkan membuka perwakilannya di puluhan Negara hingga kemudian mereka dikenal sebagai Worldwide Networking Advertising Agency. Mereka dikenal memiliki pengorganisasian yang sangat kuat di bidang kreatif dan media planning dan buying sehingga kantor mereka seringkali dianggap sebagai tempat berguru yang ideal oleh para praktisi industri advertising di seluruh dunia.

Advertising agency Indonesia yang mengibarkan bendera bisnis dengan layanan penuh dan menjadi ikon bisnis periklanan nasional diantaranya adalah Matari, Fortune, Poliyama, Hotline, Avicom, Inter Admark, MACS909, Dwi Sapta, Artek n’ Partner. Perusahaan-perusahaan periklanan nasional tersebut tampil sangat piawai dan mewarnai bisnis periklanan Indonesia hingga awal tahun 2000an. Para pendiri dan pengelola bisnis periklanan nasional menorehkan prestasi yang membanggakan termasuk melahirkan PPPI sebagai asosiasi yang menaungi dan merawat persaingan para pelaku bisnis periklanan di Indonesia. Hingga awal tahun 2000an, perusahaan-perusahaan periklanan nasional independen (non affiliated advertising agency) bertarung ketat dengan sejumlah perusahaan nasional yang berafiliasi dengan sejumlah perusahaan periklanan asing (affiliated adver-tising agency). Bisnis periklanan nasional begitu bergairah dan melahirkan perusahaan-perusahaan dan insan-insan baru periklanan Indonesia.