QUO VADIS Industri Periklanan Indonesia

0
1585

Suramnya Masa Depan Perusahaan Periklanan Nasional

Namun sejak krisis ekonomi dan moneter melanda Indonesia pada Juli 1997 peta bisnis periklanan Indonesia berubah sangat drastis. Krisis yang terjadi membuat hampir seluruh pengiklan mengurangi budget iklan mereka dengan sangat drastis. Krisis yang terjadi pada tahun 1997 memberi dampak yang buruk terhadap sejumlah perusahaan periklanan Nasional. Pendapatan mereka menurun dengan signifikan dan membuat kondisi perusahaan-perusahaan periklanan nasional dengan jumlah karyawan dan pengeluaran besar sangat kewalahan. Sejumlah perusahaan periklanan yang berafiliasi dengan perusahaan asing relatif masih bisa bertahan dengan adanya dukungan dari kantor-kantor regional. Namun perusahaan nasional yang tidak berafiliasi tampak sangat kesulitan hingga sebagian terpaksa membubarkan diri atau melakukan pengurangan karyawaan secara besar-besaran.

Pada masa tersebut sejumlah perusahaan periklanan berinisiatif menurunkan Agency Service Fee demi memancing dan mempertahankan minat pengiklan untuk terus beriklan atau berpromosi lewat media. Selepas krisis ekonomi dan moneter yang terjadi pada kurun waktu 1997-1998, secara perlahan-lahan bisnis periklanan Indonesia mulai bangkit dan geliat industri periklanan mulai terasa. Namun sayangnya, ada satu persoalan baru yang muncul tidak lama setelah masa krisis yang sebetulnya secara relatif bisa diatasi dengan baik oleh para pelaku bisnis periklanan. Persoalan baru itu adalah munculnya perusahaan-perusahaan multinasional yang menyebut diri sebagai global media specialist agency.

Perusahaan ini berkibar dengan dukungan sistem dan teknologi perencanaan media yang lebih baik, modal operasional yang kuat, kualitas sumberdaya manusia yang kompeten serta dukungan jaringan global. Modal-modal tersebut menciptakan bargaining positioning yang kuat baik ter-hadap media maupun pengiklan. Fokus pelayanan perusahaan-perusahaan media specialist global ini seharusnya adalah global brand atau global client yang memilih mereka sebagai mitra global lewat kontes agency atau agency pitch.

Biro iklan nasional atau Indonesia semakin sulit memenangkan global brand yang nyata-nyata menuntut jaringan global dan akhirnya brand global seolah menjadi jatah multinational agency termasuk media specialist global. Pada awalnya kehadiran mereka tidak terlalu diperhatikan atau masih dianggap tidak mengganggu eksistensi biro-biro iklan nasional namun tuntutan principal untuk menggunakan global agency menjadi palu yang mematikan.

Dalam perjalanannya sangat disayangkan ketika global-global agency ini juga melirik dan menawarkan jasa mereka ke brand-brand besar nasional yang nota bene selama ini sudah menjalin hubung-an yang akrab dengan biro iklan layanan penuh Nasional.

Pada awalnya penawaran-penawaran mereka masih dinilai aman atau tidak akan mengganggu eksistensi perusahaan periklanan nasional. Namun situasinya mulai berubah ketika client utama sejumlah biro iklan nasional perlahan-lahan memindahkan pemasangan iklan mereka lewat media specialist agency multinasional. Demi alasan efisiensi, brand-brand tersebut mulai menimbang penggunaan media-media specialist yang menawarkan layanan media planning dan buying dengan fee yang lebih kompetitif.

Banyak pihak menilai bahwa hal ini melanggar etika persaingan bisnis dan nyata-nyata akan menggerus pendapatan biro iklan layanan penuh. Mengingat media planning dan buying fee adalah sumber utama pendapatan hampir seluruh biro iklan layanan penuh maka pindahnya layanan media ke media specialist agency telah menurunkan operating profit biro iklan nasional hingga ke titik terendah. Kerugian demi kerugian akhirnya tidak terelakkan.