(4) Media Sosial. Poin ke-4 ini menjadi penting karena follower sang kandidat Brand Ambassador bisa mendorong peningkatan brand awareness. Media sosial milik Brand Ambassador menjadi salah satu bahan untuk menganalisa bagaimana kandidat bisa berinteraksi dengan follower-nya. Bukan hanya interaksi tapi juga bisa dinilai bagaimana ia menjelaskan brand secara jelas bahkan bisa menilai bagaimana kandidat Brand Ambassador memiliki potensi sebagai brand advocate. Semakin baik poin Attitude sang Brand Ambassador, maka semakin aman brand berinteraksi dengan follower-nya.
Semakin baik poin Attitude sang Brand Ambassador, maka semakin aman brand berinteraksi dengan follower-nya di sosial media.
(5) Riwayat Brand Ambassador. Variable penutup dari penilaian ini adalah melihat riwayat Brand Ambassador yang pernah melekat pada sang kandidat. Tentu saja kita menghindari jika kandidat pernah menjadi Brand Ambassador dari kompetitor. Kalaupun ia menjadi Brand Ambassador untuk brand lain, kita perlu menganalisa seberapa kuat impresi brand lain menggunakan Brand Ambassador ini. Jangan sampai asosiasi Brand Ambassador kita terlalu melekat pada brand lain hingga pada akhirnya akan merugikan kita sendiri.
Dari matrix elemen ini, masih banyak yang bisa kita gali untuk mempertajam pemilihan Brand Ambassador. Artikel ini sebagai stimulus agar kita mulai memperhatikan apa yang nantinya dapat muncul atau akan menjadi persepsi di benak audiens. Semakin kita berhati-hati dalam memilih Brand Ambassador, maka semakin aman brand yang kita pegang.




























