
|
|
Dalam undangan disebut bahwa pitching adalah pemilihan advertising agency untuk kampanye full service sehingga si Account Director mengundang pihak-pihak terkait seperti creative director, media director untuk ikut menerima brief pitching.
Penderitaan pertama dimulai: briefing dimulai tidak tepat waktu karena si ‘bapak’ pimpinan masih dipanggil ‘bapak pimpinan yang lebih besar’. Sabar adalah kata kunci bagi setiap orang ahensi demi mendapatkan calon client. Lumayan, billingnya cukup besar.
Penderitaan kedua dimulai. Di ruang tunggu suasana hening karena kebetulan ahensi-ahensi yang diundang tidak saling kenal. Suasana hening seolah sedang berada di kuburan. Merinding tidak, tapi hening begitulah. Semua perwakilan ahensi akhirnya diundang masuk ke suatu ruangan yang cukup besar dan bersiap menunggu si ‘bapak’ pimpinan. Briefing dimulai dengan kata pembukaan yang singkat sejurus kemudian si marketing manager menjelaskan tujuan pitching, persyaratan dan deadline.
Semua peserta diminta mengirimkan materi presentasi sehari sebelum tanggal presentasi (hari ke-13) dan setiap ahensi diminta melakukan presentasi dihadapan BOD masing-masing 90 menit maksimal.
Penderitaan ketiga terjadi ketika calon client menegaskan tidak ada pitching fee dan segala materi yang dikirimkan oleh ahensi menjadi milik calon client. Suasana batin setiap orang ‘ahensi’ yang hendak protes tapi tersekat.
Penderitaan keempat dimulai: meeting internal membahas briefing yang selalu dimulai di atas jam enam sore, dengan alasan sibuk. Selama 12 hari semua tim sibuk menyiapkan materi masing-masing sambil juga mengerjakan tugas sehari-hari yang masih menumpuk. Semuanya dikerjakan terkadang sampai lewat tengah malam, bahkan Sabtu dan Minggu juga terpakai. Libur dengan keluarga terpaksa dilupakan. Demi calon client baru.
Penderitaan kelima dimulai ketika melihat ‘bos-bos’ kecil pulang duluan sambil mengingatkan bahwa semua pekerjaan hari Senin pagi harus selesai untuk direview. Sambil menahan marah, masing-masing penanggung-jawab mengerjakan tugas masing-masing sambil berujar dalam hati: “enak juga jadi boss, gaji besar, datang telat pulang lebih awal.”





























Curiga sebetulnya pitching ini cuma formalitas doang, tapi sengaja dibikin untuk menghindari auditing yang lebih besar bencananya. Cuma kok sampai melibatkan terlalu banyak orang ya..
Ya, seringkali yang terjadi begitu. Bahkan di ujung pitching yang terjadi tawar menawar fee hingga ke tingkat yang sangat rendah.