Kami pun coba menanyakan terkait peran dan keberadaaan media konvensional (cetak) dalam pandangan mereka. Terkejut atas apa yang sebagian mereka katakan. Tyas dan beberapa temannya mengaku memang jarang sekali bersentuhan dengan yang namanya media cetak, baik itu untuk membelinya apalagi untuk membacanya.
“Ya paling dulu hanya sesekali ya itu juga cuma buat lihat-lihat fashion aja, nggak lebih dari itu,” kataTyas.
Terkait dengan datangnya era digital mereka semua menyambutnya dengan positif sekali. Bagaimana tidak dengan massivenya serangan digital tersebut mereka mengaku sangat dimudahkan baik dalam pengerjaan tugas kuliah, mencari informasi mengenai kesukaan mereka seperti fashion, tempat kuliner, wisata atau apapun informasi yang sedang menjadi trending topic semua bisa didapatkan secara cepat hanya melalui smartphone yang mereka punya
“Gimana ya, jujur kita sih sangat terbantu sekali dengan adanya kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, segala macam informasi apapun kita bisa dapat dengan cepat hanya melalui smartphone yang kita punya. Kerjakan tugas kuliah kita bisa akses dan browsing lewat google, mau fashion kita tinggal buka webcommerce seperti lazada, blibli.com dan lainnya, mau plesiran ke luar kota ataupun luar negeri kita tinggal buka traveloka, mau kulineran juga kita tinggal browsing juga. Mau update berita tinggal buka detik.com atau kompas.com, selebihnya ya kita browsing aja sendiri tergantung dengan apa yang mau kita cari informasinya. Kalau baca koran atau majalah lainnya aku rasa kayaknya sudah nggak perlu deh karena semuanya sudah ada di internet,” papar stevie.
Salah satu alasan utama generasi ini memilih sumber informasi adalah kemudahan akses. Mereka bukan generasi yang mau repot-repot datang ke agen koran atau duduk di kursi dan membolak-balik lembar koran. Mereka ingin bisa mengakses berita dengan posisi masih di atas kasur, memeluk guling, masih berselimut sambil menggenggam ponsel.
“Belum lagi ditambah info dari akun-akun media sosial, kita bisa juga dapat banyak informasi dan berita terbaru. Aku paling suka platform seperti Instagram untuk mencari informasi. Biasanya lewat video-video singkat atau gambar-gambar infografik yang berisi pengetahuan baru. Jadi menurut aku semuanya sudah terwakili dan dimudahkan aksesnya lewat koneksi interrnet. Paling yang disayangkan dari akes informasi di internet adalah banyaknya Hoax,” ujar Sandra.
“Makanya itu kalau media cetak ingin bertahan usianya paling nggak orang-orang yang bekerja didalamnya harus berinovasi melakukan terobosan apa yang lemah di industri digital, tapi menurut aku itu juga tipis kemungkinannya karena media digital sangat dinamis sekali pergerakannya sementara cetak dari dulu kayaknya begitu-begitu aja jadi bosan melihatnya. Wajar juga kalau banyak orang lebih memilih media digital ketimbang media konvensional,” ucap sarah yang diiyakan teman-temannya sambil matanya terus memandangi layar Hpnya,”timpal Ayu.
![]()
– Advertising-Indonesia.id Kunjungi Keystone Marketing Company
– Mengintip Serunya Acara “The 1st Media Planners Forum”
– Mengelola Media Konvensional Cetak Dengan Semangat Disruptive
– Editorial: Praktisi Advertising Benar-Benar Harus Melakukan Disrupsi




























