#2. Kompetisi Perebutan Belanja Iklan
Sekalipun pengusaha-pengusaha media cetak terus bertahan dan di berbagai negara jumlah sirkulasi sejumlah media cetak ditengarai meningkat, tetap saja bisnis media cetak mengalami kesulitan dan cahayanya semakin redup. Mengapa demikian? Pendapatan penjualan space iklan menjadi penyebab utamanya. Optimisme para pengamat yang mengatakan bahwa media cetak belum tentu punah ada benarnya jika ditinjau dari segi konten. Namun, dari segi pendapatan iklan media cetak pasti sulit bertahan sebab perolehannya semakin surut dan di banyak perusahaan perolehan tersebut tidak cukup untuk membiayai operasional mereka.
Harapan bertahan semakin sirna ketika media digital menawarkan puluhan teknik komunikasi brand yang bersifat interaktif, terukur dan lebih murah. Pemilik brand ‘menggelontorkan’ budget iklan ke berbagai bentuk teknik komunikasi digital dan menyisakan hanya porsi kecil untuk media cetak. Di tengah-tengah semakin menurunnya perolehan belanja iklan, para pemilik media cetak berupaya melakukan mediamorfosis (istilah bagi perusahaan media cetak yang berupaya melakukan perubahan model bisnis). Mereka beramai-ramai mendirikan usaha baru di bidang media digital demi mencoba peruntungan baru. Pemilik media cetak barakrobat dan sayangnya hanya sebagian kecil yang sukses, sebagian lagi semakin terpuruk hingga akhirnya bubar sama sekali. Media cetak gagal mempertahankan perolehan belanja iklan.

#3. Persepsi Pengiklan
Sudah semakin banyak pengiklan atau pemilik brand yang merasa bahwa media cetak semakin tidak efektif dan efisien sebagai media iklan. Sudah sejak lama mereka merindukan media yang mampu memberikan kenyamanan bagi mereka ketika membelanjakan uangnya untuk membeli space iklan. Jumlah sirkulasi yang terus menurun sebetulnya sudah diimbangi dengan diskon yang cukup besar serta bonus yang semakin banyak, namun tetap saja dianggap tidak cukup oleh pengiklan sebab bagi mereka yang jauh lebih penting adalah pengukuran.
Media cetak akhirnya semakin dipersepsikan sebagai media yang tidak reliable dan tentu ini semakin menyulitkan posisi media cetak. Konten media cetak mungkin masih bisa menahan kepergian pembaca sekalipun jumlah mereka yang bertahan akan semakin sedikit. Namun jumlah ini sayangnya tidak cukup lagi menarik perhatian pengiklan dan belanja iklan mereka di media cetak semakin menurun bahkan sejumlah brand menolak menggunakan media cetak dengan alasan tidak kompatibel dengan misi brand mereka di era digital saat ini. Media cetak dipersepsikan sebagai ‘media tua’.
Pengusaha media cetak harus memutar otak dan banyak yang menyarankan agar mereka mengubah bisnis mereka dari bisnis media cetak menjadi bisnis komunikasi yang menggabungkan seluruh unsur komunikasi ke dalam satu atap: media cetak, digital, dan pengelolaan komunitas termasuk event lewat pola berpikir disrupsi. Tentu tidak akan mudah, sebab para professional dan pengelola media cetak diduga tidak mempunyai kompetensi yang cukup untuk melakukan disrupsi. Benarkah demikian?
![]()
– Jika Media Cetak Ingin Bertahan, Tiada Solusi Lain Kecuali Berinovasi
– Mengelola Media Konvensional Cetak Dengan Semangat Disruptive
– Tantangan Mengintegrasikan Media Segmented Ke Dalam Media General




























