
|
|
Rupanya kesilaman siaran radio di udara adalah salah satu bukti kekompakan yang dilakukan radio-radio di Jakarta untuk menyuarakan kepada publik bahwa radio masih memiliki kekuatan di telinga pendengarnya. Kejadian ini mendadak popular dengan hastag #radioguemati dan sempat menjadi trending topic di Twitter.
Matinya siaran radio di Jakarta memang hanya 5 menit namun dampaknya cukup terasa bagi publik. Pendengar setia radio mencurahkan kesedihannya melalui twitter. Dalam istilah radio, hal ini disebut dengan istilah “Dead Air” dimana siaran radio menjadi kosong. Tidak ada musik, iklan ataupun kicauan sang penyiar.
Apa yang dirasakan pendengar radio seharusnya bisa menangkap pesan lebih mendalam tentang apa yang terjadi pada industri radio saat ini. Kini sudah bukan rahasia lagi bahwa industri radio saat ini sedang “berdarah-darah”. Begitu banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan oleh radio dan salah satu diantaranya tagihan yang terunda atau belum dibayar oleh klien-klien radio sehingga memberatkan biaya operasional radio dari waktu ke waktu. Hal ini sudah terjadi bertahun-tahun sehingga tidak sedikit radio yang mencari keuntungan dari event. Padahal untuk biaya operasional radio tidaklah sedikit dan sudah menjadi fixed cost yang harus dikeluarkan setiap bulan.




























