
|
|
Pernyataan tersebut bagi saya adalah semangat bersaing ala pejuang. Kenyataannya, hampir semua (baca: memang tidak semua) perusahaan periklanan berbendera asing berbilling besar dipimpin oleh mereka yang didatangkan dari berbagai negara. Ada banyak profesional puncak yang berasal dari berbagai negara seperti dari India, Jepang, Australia yang saat ini secara bergantian mengisi posisi-posisi puncak berbagai perusahaan periklanan multinasional di Indonesia. Ada yang menjadi CEO, Technical Advisor, bahkan Direktur dan Group Head (semacam eselon 2 dan 3). Sah dan wajar, begitu kata sebagian profesional lokal, sebab perusahaan yang mereka pimpin jelas adalah milik asing (kalaupun berpartner dengan orang lokal tetap pengendalinya adalah mereka yang kantor pusatnya ada di luar negeri), sehingga wajar jika mereka lebih percaya kepada tenaga asing. Pertanyaannya adalah, apa sih yang menjadi dasar kepercayaan mereka? apakah mereka jauh lebih hebat dari tenaga lokal? lebih mumpuni? jauh lebih kompeten?
Menurut salah seorang Technical Advisor yang kami wawancarai, yang ditugaskan oleh kantor pusat mengontrol kantor cabang mereka di Jakata, ya, mereka lebih kompeten. Uji kompetensinya dilakukan dimana? Mereka mempunyai jawaban tersendiri soal itu.
Beberapa minggu lalu, salah satu perusahaan periklanan yang berasal dari Inggris membuka kantor cabang di Jakarta. Sang pemilik atau tampaknya perwakilan pemilik mengatakan bahwa mereka akhirnya menemukan seseorang yang sangat hebat dan mumpuni serta memutuskan membuka kantor cabang di Jakarta karena orang tersebut sudah ditemukan. Orang tersebut, lagi-lagi, adalah orang asing yang sudah bermukim di Jakarta kurang lebih 3 tahun. Prestasinya dijejerkan termasuk pernah memenangkan Campaign of the year, Best Achiever, dan seterusnya.
Pikiran saya berkecamuk, sesulit inikah menemukan orang lokal (baca: orang Indonesia) dengan jejeran prestasi seperti itu? Belum lagi jejeran prestasi yang disebutkan menurut saya sangat subjektif. Belum lama ini salah satu perusahaan periklanan top di bilangan Jakarta Selatan mengganti CEO lama mereka dari seorang Indonesia ke lagi-lagi orang asing yang sebelumnya sudah bermukim kurang lebih sekitar 10 tahun di Indonesia memimpin perusahaan berlabel multinasional. Ada lagi, salah satu perusahaan media specialist besar, bahkan mungkin terbesar di Indonesia, jajaran pimpinan puncaknya diisi oleh tenaga asing yang mayoritas tampaknya berasal dari satu negara.
Sah dan wajar? Sebagai seorang profesional yang pernah ditunjuk menjadi pemimpin operasi sebuah perusahaan multinasional pada tahun 2000, kondisi ini buat saya menyisakan sebuah pertanyaan besar. Saya paham betul bahwa kondisi seperti ini memang adalah bagian dari globalisasi atau internasionalisasi industri, lebih jelasnya tuntutan kekinian, belum lagi semakin terbiasanya perusahaan nasional termasuk BUMN bergengsi yang lebih memilih agensi multinasional sebagai partner mereka dalam mengelola aktifitas periklanan dan komunikasi brand mereka. Kepercayaan kepada perusahaan lokal termasuk profesional lokal memang sudah semakin menipis bahkan seolah ditinggalkan ketika pitching baru mau dilakukan.
Apa yang sesunggguhnya terjadi dengan industri periklanan Indonesia? Salah satu jawaban yang mungkin masih perlu ditelaah lebih jauh adalah terjadinya ketidakmampuan bersaing pada level yang tinggi. Kita (sebagian kita) hanya mampu, mungkin, bersaing dengan tenaga lokal. Bahkan cenderung bersaing pada level efisiensi (baca: agency fee), bukan pada level kompetensi tingkat tinggi yang teruji. Kita mungkin sudah tidak mampu meyakinkan para pemilik agensi multinasional yang bermukim di New York, London, Sidney, Tokyo dan kota-kota besar lainnya bahwa di Jakarta banyak profesional asli lokal yang hebat-hebat dan layak diberi kesempatan memimpin ‘kantor cabang’ mereka di Jakarta.
Memimpin kantor cabang ini saja kok tidak mampu? Atau memang kita tidak diberi kesempatan itu?
Saya merenung sambil meminum kopi Kok Tong dari Siantar…
![]()
– Media Type Competition: Persaingan Plain AD Vs Direct Response AD




























