
|
|
Ketika berbicara event marketing dan sales masih ada permasalahan yang ditemui yaitu aktifasi tersebut harus mencapai target. Baiklah, jika bicara target tentu bisa dikompromikan. Hanya saja ada masalah dimana event marketing dan sales didorong dengan target sales yang tinggi sedangkan secara brand value masih rendah.
Masih ada ditemui kisah tentang bagaimana sebuah EO menerima brief untuk melakukan event marketing and sales dengan target yang tinggi. Terkadang EO tersebut mengalami dilema antara persaingan yang tidak sehat sesama EO sehingga perang harga tidak terhindarkan. Alhasil, EO tersebut “nekat” mengambil proyek event marketing and sales yang belum ditelusuri SWOT dari event tersebut. Sebut saja event tersebut adalah melakukan penetrasi jualan biskuit di stasiun kereta atau terminal bis. Secara harga produk dinilai masih terjangkau untuk pengunjung stasiun atau terminal. Namun ada satu hal yang tidak dianalisa oleh EO tersebut yaitu adalah kekuatan brand dan produk yang dipasarkannya.
Terjebak dengan kontrak dengan client, maka dengan terpaksa EO tersebut membeli kembali (buy back) produk yang ia pasarkan sendiri. Padahal sudah berbagai cara diupayakan mulai dari menggunakan SPG kelas A hingga memberi paket jualan namun hal tersebut tidak juga bisa mencapai target. Kenyataan yang terjadi di lapangan adalah publik tidak bisa serta merta langsung percaya terhadap sebuah produk tanpa adanya branding (baca: iklan) produk di media massa. Meskipun produk tersebut dijual sangat murah bisa jadi hanya bisa 10-20% saja yang mencapai target. Sisa penjualannya? Ambil contoh seperti ini: Sebuah EO dengan aktifitas hard selling diberi target untuk menjual produk sebanyak 10 karton berisi biskuit dengan harga per karton adalah Rp. 69.000,-. Jika dikalikan target terjual 10 karton per hari maka akan seharga Rp. 690.000,- per hari. Jika EO tersebut melakukan aktifasi selama 20 hari maka total target yang harus terjual adalah Rp. 13.800.000,-. Pada kenyataannya, per hari hanya laku sekitar 1-2 karton atau hanya terjual Rp. 138.000,-. Alhasil, EO tersebut membeli sendiri sisa produk yang dipasarkan melalui event-nya sendiri. Itu berarti EO tersebut mengeluarkan uang sendiri sebesar Rp. 552.000,- per hari atau Rp. 11.040.000,- untuk 20 hari hingga akhirnya menggerus profit margin. Harga itulah yang terpaksa dikeluarkan EO hanya demi laporan mencapai target penjualan ke client.





























