Dampak Perang Harga di Dunia Event Marketing & Sales

0
2094

Apa yang terjadi adalah EO tersebut membeli sendiri produk yang seharusnya ia jual kepada publik. Jika EO tersebut membeli hingga 80% maka sebesar itu pula kerugian dari operasional yang harus ia tanggung. Nilai tersebut akhirnya hanya menghasilkan “Laporan” yang bagus untuk client. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa penjualan mencapai target sehingga stok habis. Lalu selanjutnya apa?

Sudah bisa ditebak, ketika EO tersebut diajukan untuk mengerjakan proyek lanjutan dari event sales, maka EO tersebut menolaknya dengan berbagai alasan. Tidak ada kelanjutan dari aktifitas Below The Line ini sehingga pada akhirnya merugikan pihak client maupun pihak itu dan semua itu berawal dari “perang harga” yang tidak realistis.

Harga murah dalam sebuah kompetisi bukanlah sebuah strategi utama untuk memenangkan persaingan di dunia EO. Sebaliknya, untuk dunia aktifasi seperti ini membutuhkan ide yang brilian yang bisa diterima oleh pihak client sehingga tidak merugikan siapapun. Selain ide yang brilian, EO juga perlu menganalisa kekuatan brand dan produk yang ia pasarkan. Semakin rendah brand value, maka semakin mahal effort yang dilakukan oleh sebuah EO. Pihak client tentu menginginkan aktifitas event marketing & sales berjalan sesuai dengan timeline begitupun dengan EO yang juga menginginkan bisnisnya bisa memuaskan pihak client. Jika sudah terjebak dalam perang harga dalam EO maka yang terjadi adalah kanibal bisnis sendiri sehingga bisnis EO menjadi tidak menarik lagi.


– Ketika Branding Dibalut Dalam Kesenian
– Maksimalkan Aktifitas “Off Air” Pada Saat Piala Dunia

– Trans TV Raih Penghargaan Indonesia Most Experiential Brand Activation 2017