Di pihak lain, agency seringkali berusaha tampil sangat terorganisasi dan menerapkan proses berpikir berurut yang membuat client menjadi jauh lebih mudah mencerna sekaligus juga menyela. Bahkan sekalipun berbagai kantor agency hanya diisi oleh profesional berjumlah terbatas (rata-rata di bawah 50 staf), mereka terlihat sangat terorganisasi. Semua departemen berusaha menjadi profit centre atau profit oriented. Pengelola agency sudah sangat sadar bahwa tanpa efisiensi dan orientasi profit yang tinggi, mereka akan terkapar dan terkubur.
Setiap head of department berusaha bertindak sebagai pimpinan baik secara struktural maupun fungsional, bahkan jabatan direktur lebih banyak difungsikan secara fungsional professional daripada struktural. Kesadaran tentang fluktuasi dan gelombang pekerjaan yang seringkali memberatkan namun hanya menciptakan pencapatan yang semakin sedikit, tentu membuat pengelola agency menciptakan berbagai siasat bertahan yang ‘ajaib’ termasuk bernegosiasi dengan media house soal komisi agency. Ketika agency fee sudah sedemikian kecil, cara lain yang dilakukan adalah bernegosiasi dengan para mitra untuk mendapatkan diskon yang setinggi-tingginya sekaligus menciptakan peluang cash-back yang tinggi lewat negosiasi komitmen billings. Apakah hal ini ideal? Mungkin saja tidak, namun hal ini terpaksa dilakukan seolah berakrobat demi mempertahankan diri.
Pitching masih terus berjalan. Konsekuensinya, lembur dan kerja keras. Regional office atau para CEOs agency multinational lebih tertarik kepada billings yang terus meninggi sambil terus berusaha mengurangi resources. Sementara sebagian besar agency lokal yang strukturnya lebih sederhana lebih banyak mengutak-atik peluang peningkatan billings lewat skema proyek jangka pendek.
Variabel Tagihan
Berbagai variabel yang sepatutnya diperhitungkan dalam menyiapkan tagihan kepada client secara perlahan melebur seolah menjadi objek tak berbentuk dan tak berwajah. Variabel tersebut diantaranya adalah kompleksitas materi kreatif, jumlah orang atau staf yang dipekerjakan selama proses pembuatan materi kreatif, jumlah curahan jam kerja, komunikasi, transportasi termasuk tekanan deadline yang seolah tak rasional. Pertanyaannya adalah, apakah client memahami dengan baik dan terbuka untuk mendiskusikan hal-hal ini sebagai partner? Bagi client persoalan efisiensi dan return on investment begitu mengemuka dan hasil kerja biro iklan seringkali dilihat hanya sebagai pelengkap khususnya ketika brand yang dikelola adalah brand yang sudah sangat terkenal dan tidak sensitif lagi terhadap iklan.
![]()
– Perlunya Membangun Komunikasi Teknis Dengan Klien
– Catatan Ringan: Posisi Puncak Perusahaan Periklanan, Milik Siapa?
– Dilema Perusahaan Distribusi: Jangan Pandang Sebelah Mata, Branding di Tingkat Domestik




























