Dear Clients.., Tahukah Betapa Sulitnya Memilih Brand Ambassador? (2)

0
1613

ADVERTISING-INDONESIA.id – Kemarin, kami menuliskan tentang potensi “bahaya” jika seorang Brand Ambassador digunakan lebih dari satu brand. Bahaya itu karena konsumen bisa “tersesat” karena sudah terlalu banyak brand yang menempel pada seorang Brand Ambassador sedangkan memori konsumen sangat terbatas. Akibatnya apa? Konsumen bingung mengasosiasikan Brand Ambassador ke brand yang mana?


Pemilihan Brand Ambassador memang tidak mudah. Namun pada dasarnya pemilihan brand serupa dalam menentukan STP (Segmentation, Target Market & Positioning). Seorang public figure yang menjadi kandidat Brand Ambassador perlu dibuatkan matrix secara terperinci seputar kepribadiannya sebelum dipilih sebagai Brand Ambassador. Matrix tersebut dapat dimulai dari variable:

(1) Fisik. Variable ini bukan bermaksud sarkas, namun dalam dunia penampilan dan media bentuk fisik sangat menentukan ketertarikan konsumen terhadap Brand Ambassador. Penilaian itu bisa dinilai berdasarkan bentuk wajah mulai dari wajah berketurunan Kaukasoid, Mongloid ataupun Negroid. Konsumen Indonesia cenderung mengagumi keunikan wajah Kaukasoid dimana keunikan ini menjadikan brand positioning ikut terasosiasikan oleh figur Brand Ambassador ini. Untuk menentukan variable ini umumnya dilakukan dengan cara FGD (Focus Group Discussion) dengan jawaban kualitatif dari setiap anggota.

Penilaian Public Speaking mulai dari nada bicara, kosakata, struktur berbicara, bahasa tubuh (gesture) hingga bagaimana ia menanggapi pertanyaan dari wartawan.

(2) Public Speaking. Variable ini mulai mengacu pada kemampuan kandidat Brand Ambassador berbicara. Penilaian ini mulai dari nada bicara, kosakata, struktur berbicara, bahasa tubuh (gesture) hingga bagaimana ia menanggapi pertanyaan dari wartawan. Untuk variable ini, Anda bisa menggunakan poin untuk menilai. Di tahap awal Anda bisa memberikan poin tertinggi lalu kemudian Anda harus menilai kemampuan lainnya hingga bisa mempengaruhi poin awal Anda berikan. Poin tersebut bisa naik atau bahkan bisa turun akibat kelemahan kandidat Brand Ambassador dalam menguasai public speaking.

(3) Attitude. Attitude atau sikap tidak bisa dilihat 100% pada saat kandidat Brand Ambassador diwawancarai oleh kita. Cara yang paling jeli untuk melihat attitude kandidat Brand Ambassador adalah dengan meneliti cara dia menjawab kritik di media sosialnya atau tingkah lakunya ketika diwawancara oleh wartawan sebuah media massa. Kita mesti benar-benar jeli memperhatikan bagaimana kandidat Brand Ambassador bertutur kata, menggunakan bahasa tubuhnya hingga menjawab pertanyaan yang sensitif tentang dirinya. Mengapa poin Attitude ini menjadi penting? Hal ini menjadi penting karena menjadi simulasi ketika ia berhadapan dengan publik dan media terutama ketika sebuah brand resmi melekat padanya. Semakin baik poin Attitude kandidat ini maka semakin aman brand untuk menjadikannya sebagai Brand Ambassador.