Ironi Media Digital Terhadap Brand dan Industri Media

0
4219

ADVERTISING-INDONESIA.id – Ekosistim industri advertising dikhawatirkan terjebak dalam eforia media digital yang semakin liar. Bak mengejar layangan putus, ketika layangan sudah dalam genggaman, nafas sudah tersengal dan layangan sudah terlihat kumal.

Lewat suatu berita di media online marketing disebutkan bahwa P&G menjadi salah satu perusahaan kelas dunia yang memutuskan memotong belanja iklan digital mereka pada pada kuartal kedua tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak brand yang merasa seperti membuang duit pada iklan-iklan digital yang dinilai belum efektif. Sementara kepercayaan terhadap media konvensional semakin jauh berkurang.

Apa yang terjadi pada iklan-iklan media digital? Sejumlah media digital termasuk Google, Instagram dan Facebook diketahui menjanjikan bahwa mereka dapat mengantarkan iklan dan memastikan uang yang dibelanjakan menjangkau orang yang tepat, pada waktu yang tepat dan pesan yang tepat. Pertanyaanya adalah seberapa mampu iklan media digital termasuk programmatic buying dalam membangun brand? Bentuk pemasaran digital seperti apakah yang sungguh-sungguh bisa menggantikan peran media konvensional dalam membangun dan menjejakkan brand?

Sejumlah pemasar mengaku sangat khawatir tentang penggunaan digital yang terlalu banyak untuk tujuan penjualan dan tidak cukup untuk pengembangan brand. Belakangan ini, semakin banyak brand yang memutuskan pemindahan budget iklan media konvensional mereka ke media digital. Korban dari keputusan inipun sudah cukup banyak dimana banyak media cetak konvensional terpaksa bubar karena pendapatan iklan mereka tidak cukup lagi membiayai operasional. Sebagian berusaha eksis dengan bertransformasi ke versi digital. Ironisnya, pendapatan iklan yang mereka peroleh dari versi digital sangat tidak sebanding dengan versi cetak sebelumnya. Banyak yang terpaksa berharap dan menggantungkan hidup dari programmatic buying yang menempatkan iklan lewat pembelian algoritmik dan dengan biaya penempatan iklan yang cenderung murah. Di tataran ini, media digital bukan pilihan yang enak dan pas.

Mengapa belakangan ini sejumlah brand mulai berhitung ulang belanja iklan mereka di media digital? Siapa sebetulnya yang benar-benar melihat iklan di media digital? Sebagian menengarai bahwa belum tentu orang tapi bots atau robot. Baru-baru ini ditemukan rekayasa atau manipulasi jumlah like yang dilakukan oleh sekelompok orang di suatu tempat, yang artinya memang sangat terbuka kemungkinan bahwa yang melihat atau bereaksi terhadap iklan itu adalah mesin. Sementara itu, saat ini banyak media digital yang isinya sangat berkualitas dan memiliki audiens yang fokus atau segmented namun begitu sulit menjaring pengiklan dengan alasan bahwa impression saja tidak cukup sekalipun impression itu terjadi di kalangan audiens yang sangat segmented . Pengiklan menuntut jumlah klik, bahkan conversion. Pengukuran ini dipelopori media digital super besar yang seolah sah sebagai penentu pasar dan ironisnya banyak pengukuran ini tiba-tiba menjadi kesepakatan dunia.

Dengan penguasaan audiens Facebook dan Google yang sedemikian dahsyat, tak heran kedua perusahaan ini terus mengalami peningkatan pendapatan, bahkan hingga 47% dan 22 % sampai dengan Juni tahun ini dibanding Juni tahun sebelumnya.   Facebook dan Google adalah duopoli terbesar sejagat saat ini. Namun masih ada ratusan ribu media digital dengan ragam konten dan bentuk yang hidupnya masih merana. Sampai kapan?

 

Berita terkait:
– Mengenal Manfaat dan Kekurangan Rating
– Serat Centhini dan Rezeki 7 Turunan yang Baru dari TRANSTV
– Televisi MNC Group Borong Penghargaan Indonesian Television Awards 2017