Jika Media Cetak Ingin Bertahan, Tiada Solusi Lain Kecuali Berinovasi

0
1805


ADVERTISING-INDONESIA.id – Generasi Milenial adalah generasi muda yang lahir di tengah dahsyatnya peradaban teknologi, artinya mereka juga yang kelak akan menjadi sosok yang menggiring arah perkembangan teknologi mau dibawa kemana.  Meski dianggap pecandu dari perkembangan teknologi, generasi milenial justru menjadi kalangan yang cukup kreatif dalam memanfaatkan teknologi terkini.

Generasi Milenial begitu kita menyebutnya belakangan ini kendati tak terlalu paham apa artinya, tetapi nyatanya istilah itu sudah masuk demikian dalam pada percakapan sehari-hari. Terkait dengan generasi Milenial berikut dengan perkembangan teknologinya belakangan memang banyak dikeluhkan oleh para pekerja di media konvensional (khususnya cetak) karena disebut-sebut akan ‘membunuh’ karya media konvensional lantaran tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan informasi yang sesuai dengan perkembangan jaman. Lantas benarkah The Power of Digital itu secara lambat tapi pasti akan menenggelamkan media konvensional. Kemudian sebaliknya jikalau bertahan seberapa kuat juga media konvensional mampu bertahan ditengah gempuran digital yang maha dahsyat seperti sekarang ini?

Kehadiran internet dan perkembangan teknologi berikut ponsel pintar membentuk pola cara membaca berita pada Generasi Milenial. Dua generasi sebelumnya, generasi X dan Y pun mengalami perubahan kebiasaan dalam mengakses berita. Mereka yang dulu terbiasa membaca koran tiap pagi kini perlahan juga mulai menggantinya dengan mengecek apa yang terjadi lewat ponsel.

Perubahan ini, mau tak mau, membuat industri media harus cepat beradaptasi. Media-media sekarang terutama yang berbasis di Jakarta tidak bisa terus mengandalkan para pembaca tuanya yang tak lama lagi bakal tiada.

Generasi “Jaman Now” yang belakangan juga disebut sebagai generasi milenial adalah salah satu faktor penentu apakah media konvensional itu masih diperlukan saat ini atau sebaliknya semua informasi apapun sudah demikian terwakilinya dengan kekuatan digital tersebut.

Memang belum ada riset yang mengatakan secara pasti bahwa the power of digital itu akan membungkam keberadaan media konvensional, tetapi semua itu bisa terdeteksi lewat gejala atau fenomena yang terjadi belakangan ini. Karena itu penting bagi para pelaku industri untuk memahami perilaku dan kebiasaan dari generasi milenial itu.

Beberapa waktu lalu advertising-indonesia sempat menurunkan artikel yang mengatakan bahwa masa depan media konvensional khususnya radio dan media cetak jika hanya mengandalkan perolehan iklan sudah pasti sangat sulit. Fakta yang ditemukan di lapangan saat ini adalah bahwa jumlah audiens media lama yang masih tersisa ternyata sudah tidak cukup sebagai alasan bagi para pemilik brand untuk terus menggunakan media konvensional sebagai media iklan. Sekalipun sejumlah media daerah mengaku bahwa audiens mereka secara readership dan sirkulasi masih mengalami pertumbuhan, namun jumlah penjualan space iklan terus menurun.

Setidaknya ditengah gempuran media digital yang demikian massive masih ada sedikit harapan bagi para pemilik media konvensional. Tapi kenyataannya memang sangat tipis, kenapa demikian? beberapa waktu lalu advertising-indonesia mencoba langsung menayakan kepada beberapa mahasiswa secara kualitatif yang kebanyakan diantara mereka dilahirkan di era 90an keatas, terkait dengan pola mereka yang memang sangat bergantung pada konektivitas digital.

Adalah sandra, tyas, olivia, cathy, julia, sarah, ayu, imel, stevie, caroline  dan beberapa teman lainnya. Sore itu mereka sedang asik duduk berkelompok disebuah coffe shop dibilangan Senayan, setiap mereka juga dilengkapi dengan perangkat digital seperti laptop dan juga smartphone yang semuanya sudah terkoneksi dengan fasilitas WiFi yang tersedia. Mereka tengah mengerjakan tugas kuliahnya sambil asik berselancar didunia maya. Dijaman generasi Millenial, media cetak memang semakin menghadapi senjakala. Terbukti sudah banyak sekali media cetak yang sudah tutup.