
|
|
#1. Kompetisi Perebutan Audiens
Ketika radio dan televisi mulai aktif dan meramaikan industri media khususnya sejak tahun 1930an, banyak pihak menduga bahwa media cetak akan terpinggirkan. Pembaca media cetak akan semakin tergerus, sebab mereka akan pindah menjadi penonton televisi dan pendengar radio. Pada level persaingan perebutan audiens, ternyata media cetak menunjukkan kepiawaiannya dan sukses menahan gempuran media elektronik TV dan Radio. Posisi media cetak yang awalnya diduga akan semakin melemah bahkan terancam punah ternyata tidak terjadi sama sekali. Jumlah media cetak bahkan terus bertumbuh dan konten-konten editorial yang semakin terspesialisasi justru semakin berkembang hingga sekitar akhir tahun 1990an.
Hal ini terjadi karena kelebihan absolut media cetak yang sudah berlangsung selama pulhan tahun tidak bisa digantikan oleh radio dan televisi. Diantara kelebihan absolut tersebut adalah peran teks yang ternyata tidak bisa digantikan begitu saja oleh variabel audio-video yang diusung oleh radio dan televisi. Media cetak dengan lincah dan kreatif memainkan peran kata dan kalimat yang didukung oleh ilustrasi dan gambar. Kekuatan analisis isi yang dinilai sangat kredibel serta adaya unsur kepercayaan terhadap tim editorial yang terus menguat membuat media cetak sulit tergusur. Audiens akhirnya dengan bijak menempatkan dan menggunakan media cetak, radio dan televisi sesuai dengan kekhasan masing-masing.
Sayangnya, di era digital, kekuatan teks media cetak tidak lagi absolut karena media digital ternyata mampu mengusung teks serta audio video dengan kemampuan delivery yang dahsyat. Dunia media cetak terperangah dengan kemampuan media digital dalam menghadirkan berita, informasi dan ragam konten editorial yang lebih praktis serta penyebarannya yang sangat masif. Perlahan-lahan tapi pasti, media cetak kehilangan pembacanya dan sirkulasipun terjun bebas. Ketidakmampuan media cetak dalam mempertahankan pembacanya. Kepiawaian media cetak yang sudah berlangsung selama ratusan tahun sirna hanya dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Media digital telah menimbulkan malapetaka besar bagi bisnis media cetak. Pengiklan perlahan-lahan mengurangi budget iklan mereka di media cetak hingga ke tingkat yang sangat rendah. Berkurangnya pendapatan melalui iklan ditambah harga kertas yang fluktuatif membuat bisnis media cetak seolah runtuh menyentuh bumi.
Media digital membuat industri media cetak porak poranda. Audiens bisa menemukan konten apa saja lewat media digital bahkan bisa menulis dan membagikan tulisan, pandangan, komentar bahkan analisis mereka dengan bebas merdeka di ribuan media digital. Tim konten media cetak kelabakan sebab mereka berhadapan dengan jutaan jurnalis publik atau praktek citizen journalism yang merebak kesana kemari. Tulisan para ahli bertebaran di media-media digital dan siapa saja boleh mengunduh dan menyimpannya untuk kepentingan pribadi kelak. Media cetak jelas kalah dalam mempertahankan audiens pembaca.




























