
|
|
Bagi advertising agency, pitching masih saja menjadi salah satu cara terbaik untuk mendapatkan client. Namun, berbagai perusahaan periklanan mengeluhkan umur kontrak kerjasama dengan client yang semakin lama semakin pendek. Kontrak satu tahun kerjasama rasaya baru diperpanjang, namun undangan pitching sudah dikirimkan dan ‘wajib’ untuk diikuti. Semuanya seolah menjadi tiba-tiba. Persaingan dengan perusahaan periklanan jaringan global berkekuatan besar seakan hanya akan menyisakan ketidakseimbangan bahkan ketidakberdayaan. Semakin banyak perusahaan lokal yang akhirnya berkejaran dengan ‘proyek’ dan mengubur niat mendapatkan pekerjaan panjang berbilling besar, sebab tujuan pokok adalah survival.
Di sisi lain, makin banyak rumah media yang merasa tahun 2017 sebagai tahun yang sulit khususnya bagi media cetak dan radio. Perolehan pendapatan iklan semakin menurun, sehingga PHK menjadi pilihan utama demi mengurangi beban operasional perusahaan. Banyak pihak menyerukan lakukan disrupsi, ah.., itukan tidak semudah mengucapkannya.
Media buying agency seharusnya bertahan dari tekanan harga murah yang dilesakkan pemilik brand. Agency fee on media services seharusnya dipertahankan pada tingkat yang masih ‘enak didengar’. Mereka juga seharusnya tidak menggantungkan diri kepada insentif yang diberikan rumah-rumah media, sekalipun mungkin sah-sah saja terlihat dari kacamata kerjasama.

Tim account management dan kreatif seharusnya bertahan dan tidak mudah dikalahkan oleh bujuk rayu client dengan alasan ‘tetangga sebelah’ lebih murah sehingga akhirnya menyerah dan menawarkan harga murah. Harga untuk suatu hasil karya kreatif memang bisa menjadi sangat relatif. Namun, kepantasan suatu harga hasil karya kreatif tidak bisa didekati dengan sekedar mengira-ngira biaya operasional seolah karya kreatif adalah komoditi. Gagasan di balik hasil akhir karya kreatif itulah yang mahal sebab tidak semua orang bisa menciptakan gagasan yang imajinatif.
Industri periklanan, rumah-rumah media, rumah produksi seharusnya terlindungi dari praktik bisnis ‘asal laku’. Siapa yang harus melindunginya? Pertama-tama adalah ekosistim itu sendiri. Mereka yang berada di bawah payung besar ekosistim periklanan Indonesia harus duduk dan menyepakati bahwa kita adalah keluarga besar bisnis periklanan yang kuat penuh integritas.
Baca: Media Cetak: Mungkin Benar, Bahwa Media Cetak Tidak Akan Mampu Lagi Bertahan!
Bisnis periklanan adalah tentang kredibilitas. It is all about credibility. Tidak asal murah demi mendapatkan client, tidak begitu saja mengikuti kemauan client demi menjaga billings. Dilematis? Ya, tapi percayalah, kredibilitas akan menjadi benteng yang kuat untuk bertahan dari tekanan ‘harga’ yang tak pantas.
Kapankah kredibilitas itu hilang? Ketika kita mudah ditekan, ketika harga kita turunkan hingga ke tingkat yang tidak masuk akal, ketika hasil karya kita direvisi tanpa batas yang tak jelas namun tanpa tambahan biaya yang pantas, ketika kita bersedia dibayar hingga berbulan-bulan kemudian dengan tingkat kepasrahan yang sangat lepas.
Ah, hujan masih cukup deras di luar sana, sementara kalender tahun 2017 sudah pada lembar yang ke-11, tahun 2018 pun sudah di depan mata. Akankah kita berbenah?
![]()
– Jika Media Cetak Ingin Bertahan, Tiada Solusi Lain Kecuali Berinovasi
– Editorial: Praktisi Advertising Benar-Benar Harus Melakukan Disrupsi
– Editorial Advertising: Berinovasi atau Mati




























