Editorial
Advertising: Berinovasi atau Mati

0
521


ADVERTISING-INDONESIA.id – Di era digitial saat ini, jutaan orang mengunduh atau mendownload software penangkal iklan atau ad-blocking software bahkan banyak yang membayar dan berlangganan dengan harga premium demi mengaktifkan sejumlah program penangkal iklan. Setelah melewati dan mengalami kesuksesan yang sangat lama, iklan dinilai mulai mengalami perlambatan bahkan mengarah kepada ‘kepunahan’ total. Iklan oleh banyak pihak dinilai mulai mengarah ke lamban, berlebih-lebihan dan sejujurnya dianggap mengganggu. Pemikiran ini juga menghinggapi para praktisi di Madison Avenue yang juga berpendapat bahwa era traditional advertising sudah berakhir. Namun bagaimana dengan digital advertising?

Andrew Essex dalam bukunya ‘The End of Advertising’ meneriakkan a wake-up call dan mengatakan bahwa sebuah peta jalan baru yang menuntun advertising menuju masa depan sudah sangat dibutuhkan. Essex menantang dengan tegas para pemasar tingkat global untuk terus menginovasi cara-cara mereka dalam menciptakan iklan yang lebih baik di masa depan. Essex membayangkan suatu situasi baru dimana orang-orang akan membayar untuk melihat iklan.

Baik iklan yang dipasang atau dimuat di media tradisional maupun digital kedua-duanya mengalami potensi tidak diminati jika audiens menganggap iklan tidak relevan dengan hidup mereka sehari-hari. Di era kejayaan media tradisional, audiens seringkali dipaksa mengonsumsi iklan yang berjejal dalam satu halaman koran, atau bertumpuk dalam satu break iklan media elektronik seperti TV dan Radio. Iklan di masa tersebut tentu banyak yang berhasil mengangkat citra dan penjualan brand namun banyak juga iklan yang gagal setelah menghabiskan dana yang cukup besar. Banyak pengiklan yang merasa bahwa 50 persen uang yang mereka belanjakan di media advertising berakhir sia-sia dan 50 persen sisanya juga tak jelas kemana larinya. Ini adalah pandangan sinis pengiklan terhadap iklan yang sekalipun dicerca namun masih tetap digunakan hingga di era digital saat ini.

Kehadiran media digital membuat pengiklan merasa mendapat teknik komunikasi brand yang jauh lebih baik karena media digital menawarkan berbagai hal baru yang melampaui kemampuan media konvensional seperti terukur, dapat dibagikan, dan interaktif. Tapi bagaimana nasib iklan di era digital seperti Banner ads, Adsense, Email advertising, Native ad, Social media ads, Sponsored text dan Rich medis ad? Semua jenis iklan digital yang muncul di ragam perangkat digital audiens baik yang statis maupun mobile tetap berpotensi mengganggu jika tidak dikelola dengan baik. Akibatnya, iklan bisa saja ditinggalkan oleh pemilik brand dan beralih secara evolusioner menggunakan beragam teknik pemasaran digital lainnya.

Pemasaran digital memang akhirnya membuka banyak kesempatan komunikasi brand yang terus berkembang dan iklan terancam menjadi tidak populer jika dalam penggarapannya dinilai tidak kontekstual, tidak humanis, tidak relevan, tidak memiliki daya tarik bahkan dianggap mengganggu kenyamanan.

Teknik pemasaran digital yang lebih mengandalkan data, tanpa iklan, sekali lagi adalah ancaman terbesar kepada iklan sebagai teknik komunikasi historis.

Komunitas periklanan global ditantang untuk terus berinovasi, sehingga iklan digital benar-benar tetap bertahan dan diminati oleh para pemilik brand. iklan di media tradisional diduga kuat akan semakin menurun dan terancam hilang. Teknik pemanfaatan big data harus betul-betul dipelajari oleh praktisi periklanan sebab jika tidak, maka teknik-teknik pemasaran digital lain akan menggantikan peran iklan di masa depan. Para praktisi pemasaran digital sangat berambisi menggunakan big data dalam mengembangkan pola, tren dan mengasosiasikannya dengan perilaku konsumen serta membangun interaksi dengan konsumen.  Bagaimana dengan praktisi periklanan Indonesia?


– Masa Depan Suram Perusahaan Media Advertising Indonesia
– Mari Bermimpi Menjadi Advertising Agency Terbaik Dunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here