
|
|
Menurut siaran pers tersebut, proses tiga kali mediasi di bipartit dan juga mediasi tiga kali tripartit di Sudinaker Jakarta Selatan pada hari Senin 22 Januari 2018, masih belum membuahkan hasil yang diharapkan dan pihak FKK-FG dan LBH Pers menganggap bahwa pihak perusahaan Femina Group masih belum memberikan respon positif terhadap aspirasi sebagian besar karyawan yang tergabung dalam FKK-FG. Banyak hal yang dimintakan seperti tuntutan karyawan agar membayar kekurangan upah di tahun 2016 dan 2017, pembayaran BPJS Ketenagakerjaan dan tranparansi pengelolaan dana pensiun. Hal-hal ini memang belum semua bisa disepakati sehingga persoalan ini mungkin masih akan terus berlanjut. Masih menurut siaran pers tersebut, konfirmasi yang dilakukan kepada pihak menejemen, terkait dengan masalah-masalah di atas masih belum mendapat kepastian dan belum jelas waktunya sampai kapan kondisi ini akan bisa diselesaikan.
Kesulitan yang dialami Femina menurut Advertising Indonesia adalah salah satu potret kesulitan yang dialami oleh banyak perusahaan media cetak di Indonesia saat ini. Menurunnya jumlah copy yang terjual, perolehan pemasangan iklan yang semakin meredup, sementara biaya operasional masih tetap tinggi menjadi asal muasal malapetaka industri media cetak. Bahkan, sebagian manajemen media cetak terbelit masalah inventasi, bunga pinjaman dan modal kerja yang sudah tidak mencukupi. Akhirnya aliran kas tidak lagi terkendali bahkan di level profit and loss sudah negatif.
Media-media terkenal seperti Femina dipaksa tunduk kepada perubahan pasar dan industri media yang oleh sebagian besar manajemen media cetak terlambat diantisipasi. Banyak yang mengakui bahwa lambannya mereka dalam mengantisipasi perubahan besar industri media yang sudah terjadi sejak sekitar dua dekade yang lalu tak pelak menimbulkan masalah besar. Mereka terlambat dalam mengubah model bisnis, tidak menyalurkan dengan cepat talenta-talenta yang ada untuk menggarap jenis bisnis atau produk lain yang lebih menjanjikan, dan terlambat dalam berinvestasi ke jenis produk yang lain ketika uang masih berlimpah. Alhasil, saat ini bayak media cetak yang menderita kesulitan keuangan.

Dari sudut pandang sejarah media, kita mengenal Femina sebagai salah satu media untuk target audiens female aktif dan dinamis yang sangat terkenal pada masanya. Iklan-iklan mengalir deras bahkan seringkali ditolak karena sudah melewati jumlah halaman iklan tersedia. Ratusan ribu copy terjual setiap minggu dan dengan segera mereka melahirkan anak-anak media baru di era 90an hingga awal 2000an. Namun dalam perjalanan berikutnya, gelombang persaingan media yang disertai masuknya media baru digital secara masif ternyata dengan cepat menciptakan masalah dan petaka, seolah menghilangkan kedigdayaan puluhan media cetak lama.
Tidak saja Femina yang mungkin terlambat mengantisipasi perubahan-perubahan tersebut, ada banyak media cetak dengan nama-nama besar tumbang dan mundur dari gelanggang permainan media. Apakah hanya Femina yang didera masalah dengan para profesionalnya? Menurut berbagai sumber, masih banyak persoalan yang saat ini dialami sejumlah praktisi media dan berhadapan langsung dengan manajemen mereka. Hal ini patut kita renungkan secara mendalam sebab tidak ada pihak manapun yang menginginkan perselisihan antara manajemen perusahaan dan karyawannya.
Rumah-rumah media dikenal sebagai rumah yang nyaman dan diisi oleh orang-orang yang kreatif dan kritis. Ragam persoalan internal selama ini seringkali diselesaikan dengan damai, namun ketika menyangkut uang, khususnya ketika masa sulit, membuat banyak pihak seolah mundur dan berpaling meninggalkan ruang-ruang negosiasi atau hanya sekedar bersalaman dalam hening. Canda dan tawa itupun seolah menjadi benda asing.
Proses Tripartit masih belum berakhir dan rekan-rekan para profesional Femina masih menunggu anjuran Disnaker dan kemudian melanjutkan untuk meminta keadilan kepada Pengadilan Hubungan Industrial. Kita tentu berharap manajemen Femina diberi kemampuan dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah ini, bahkan jika masih memungkinkan, Femina kembali dalam wujud yang berbeda dan meramaikan industri media di Indonesia.
![]()
– Media Cetak Menjemput Ajal
– Meneropong Nasib Media Cetak di Tahun 2018
– Peluang Media di Tahun 2018 Tahun Kredibilitas Media




























