
|
|
Para pemasang iklan memang cenderung semakin tidak puas dengan hasil pemasangan iklan plain dan seringkali berujung menyalahkan media atau channel khususnya media tradisional. Merekapun semakin mengidolakan direct response ad dan direct response media. Media tradisional seperti koran, majalah, radio, dan televisi adalah kategori media yang menjadi korban keganasan persepsi ini sebab kategori media ini dinilai tidak mampu menayangkan direct response ad. Direct response ad sendiri adalah bagian dari aktifitas direct marketing.
The Direct Marketing Association (DMA) mendefinisikan direct marketing sebagai segala bentuk komunikasi langsung yang dirancang untuk menghasilkan sebuah aksi atau respons yang positif dan terukur seperti melakukan order atau pemesanan barang atau jasa, permintaan informasi lanjutan, dan atau kunjungan langsung ke lokasi penjualan untuk melakukan pembelian. Ada juga pihak yang mendefinisikannya sebagai sebuah sistim pemasaran terukur yang menggunakan satu atau lebih media advertising dengan tujuan membangun transaksi sekaligus database.
Dalam konteks media, ada dua area yang menjadi perbedaan pokok direct response media dengan plain media. Pertama, direct response media adalah sebuah sistim pemasaran yang interaktif. Media ini menghubungkan pembeli dan penjual secara langsung. Jika plain ad ditujukan untuk membangun efek-efek komunikasi awal maka direct response ad tidaklah demikian. Direct response ad bukanlah aktifitas komunikasi yang berharap atau meminta anda sekedar suka terhadap iklan dan isinya namun jauh lebih tegas lagi yakni meminta anda melakukan tindakan kuantitatif terukur termasuk melakukan transaksi.




























