
|
|
Musuh utama pengelola biro iklan saat ini adalah pertumbuhan pekerjaan yang jauh lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan. Pertumbuhan pekerjaan atau workload berarti besaran biaya operasi agency seperti gaji, listrik, internet atau biaya-biaya overhead pasti akan naik. Saat pekerjaan semakin menumpuk, fakta yang kontras dengan itu adalah pembayaran agency yang cenderung semakin mengecil seperti dibuktikan oleh semakin kecilnya agency fee baik untuk kreatif maupun media. Pekerjaan borongan yang seringkali ditawarkan pemilik brand biasanya menjadi santapan tim-tim kecil atau para freelancer yang struktur biaya operasi mereka memang lebih efisien.
Banyak agency yang merasakan betapa pemilik brand atau pemberi order cenderung bertahan atau memiliki aturan main yang semakin hari semakin kaku. Saat ini tim marketing dan procurement saling bekerjasama dalam menekan biaya produksi yang diajukan para ‘supplier’ dimana advertising agency termasuk salah satu ‘partner’ yang sudah dianggap juga sebagai supplier. Mereka juga berupaya menurunkan agency fee termasuk bahkan mengelola sendiri pekerjaan-pekerjaan produksi, menyiapkan daftar harga sendiri, mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang dianggap boros, dan lain-lain. Target mereka adalah efisiensi setinggi-tingginya.
Di sisi lain, advertising agency atau para konsultan komunikasi brand dituntut untuk semakin kreatif, proaktif, dan siap melakukan pekerjaan hingga larut malam bahkan dini hari. Bayangkan, tim agency yang sudah babak belur karena seringnya melakukan over time, harus berhadapan dengan tim pengelola brand yang lebih segar, kuat dan garang. Bernegosiasi dengan tim seperti ini pasti berat dan agency lebih cenderung ‘menyerah’ apalagi ketika si biro iklan lagi membutuhkan order. Tim marketing dan procurement mempunyai dalih yang kuat dan berlindung di balik pakem cost-conscious oriented, penilaian yang berfokus pada budaya korporasi dimana akuntabilitas merupakan fakta atau garis hidup yang harus dipatuhi.
Menurut Micahel Farmer, tidak berarti dengan orientasi pemikiran yang kuat dan diterapkan oleh berbagai korporasi, secara otomatis mereka juga senantiasa terorganisasi dan berdisplin tinggi saat melakukan kontak dan pembicaraan dengan agency. Seringkali yang justru terlihat adalah agency briefing yang ‘miskin’, kemudian proses persetujuan yang berlangsung bolak balik hanya dengan revisi minor dan jauh dari makna kualitatif yang tinggi. Belum lagi proses perencanaan yang hampir mirip-mirip antar periode. Client-client yang tidak terorganisasi hampir menjadi makanan sehari-hari sejumlah agency hingga hasil yang terciptapun pada akhirnya lebih mendekati nol atau tanpa hasil yang memadai. Semuanya seolah-olah terorganisasi, tapi faktanya tidak. Jam untuk meetingpun seringkali berubah-ubah bahkan molor hingga berjam-jam dengan alasan dipanggil mendadak oleh sang ‘boss’.





























