Ironi Di Balik Pertumbuhan Belanja Iklan di Indonesia

0
695


ADVERTISING-INDONESIA.id – Data tentang belanja iklan yang dirilis oleh Nielsen Company Indonesia seringkali menyisakan harapan sekaligus pertanyaan bagi para praktisi periklanan Indonesia khususnya mereka yang aktif dalam mencari pemasang iklan atau tim penjualan space iklan. Ketika disebutkan bahwa belanja iklan bertumbuh maka hal tersebut berarti adanya harapan untuk bertahan sekaligus memperoleh pendapatan yang semakin tinggi. Belanja iklan di media-media tradisional utama di Indonesia memang diberitakan selalu naik, misalnya di sepanjang bulan Januari hingga Juli 2017 Nielsen menyebut bahwa belanja iklan mengalami kenaikan sebesar 6% dibanding periode yang sama di tahun 2016.

Nielsen juga mengatakan kenaikan tarif sebagai salah satu penyebab naiknya angka tersebut.

Perlu diketahui bahwa angka yang dirilis oleh Nielsen Indonesia adalah angka gross atau angka sebelum diskon bahkan di dalam angka tersebut juga termasuk nilai pemasangan iklan-iklan bonus atau iklan yang tidak berbayar. Pada saat Nielsen merilis data belanja iklan, publik memahaminya sebagai gambaran pertumbuhan atau penurunan belanja iklan nasional secara faktual. Namun sebaiknya kita perlu memahami bahwa angka tersebut adalah angka yang dihitung berdasarkan rate card atau harga resmi yang tercantum di daftar harga pemasangan iklan yang dikeluarkan oleh setiap media. Pada saat angka ini dicocokkan dengan besarnya pendapatan setelah dipotong diskon serta mengurangi lagi seluruh pemasangan iklan bonus maka angka yang dirilis oleh Nielsen bisa jadi terbalik dengan kenyataan yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

Pertumbuhan belanja iklan secara gross sangat mungkin terjadi jika jumlah incidence atau frekuensi pemasangan iklan meningkat, yang jika dikalikan dengan harga berdasarkan gross rate card maka total gross value atau value sebelum diskon jelas akan meningkat. Namun banyak pihak yang bertanya-tanya apakah incidence yang meningkat ini benar-benar paid incidence atau jangan-jangan bonus incidence. Ada banyak media yang dewasa ini terpaksa memberikan bonus incidence atau bonus spot yang lebih banyak hanya demi mempertahankan minat pengiklan untuk tetap belanja dengan jumlah uang yang sama seperti di tahun-tahun sebelumnya. Bahkan diskon yang dilepaskan cenderung semakin tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dengan kata lain, demi mempertahankan perolehan iklan yang sama seperti di tahun-tahun sebelumnya, para pengelola media terpaksa memberikan bonus frekuensi yang lebih banyak. Space yang terpakai atau air time yang terpakai akan tampak menjadi lebih banyak atau meningkat jika dibanding tahun sebelumnya namun nilai net atau pendapatan bersih yang diperoleh media yang bersangkutan sebetulnya tidak meningkat bahkan di banyak media terus menurun.

Dalam situasi seperti ini maka siapapun lembaga survey yang melakukan survey belanja iklan akan menyebut bahwa nilai belanja iklan di media-media yang disurvey meningkat sebab mereka hanya mencatat sesuai nilai incidence dikalikan dengan gross rate card.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here