Beriklan Dengan Bijak (Kasus White Koffie Luwak)

0
1630

ADVERTISING-INDONESIA.id – Beriklan dengan bijak, bukan beriklan dengan budget besar sepertinya tepat dialamatkan kepada brand ini.


Besarnya belanja iklan yang ideal adalah salah satu topik klasik yang hingga saat ini masih kerap didiskusikan oleh komunitas iklan. Secara tradisional belanja iklan di televisi swasta nasional masih didominasi oleh kategori FMCG dimana sejumlah brand terkemuka tampak sangat aktif. Brand-brand tersebut sudah cukup lama menghiasi layar kaca bahkan sejak era televisi swasta nasional mulai menapakkan jejak pada tahun 1987.

Tampak jelas bahwa mereka enggan meninggalkan layar kaca bahkan belanja para pemimpin pasar tersebut terus meningkat. Sebut saja Rinso, Pepsodent, Indomie, Honda dan beragam brand lain yang terus mempertahankan intensitas komunikasi mereka dengan audiens.

Besarnya belanja iklan brand-brand tersebut seringkali menimbulkan pertanyaan sekaligus keraguan brand baru dengan budget terbatas untuk ikut terjun meramaikan iklan layar kaca. Angka atau budget yang mereka kucurkan seringkali hanya menciptakan share of voice yang sangat kecil atau gaung yang diciptakanpun sangat lemah.

Bersaing dengan pengiklan mapan seringkali membuat kompetitor atau brand baru berhati-hati dalam mengelola aktifitas periklanan mereka, sebab dana yang tadinya sudah dianggap besar bisa seolah hilang atau tenggelam tak berbekas. Konsistensi atau kontinuiti brand besar dalam beriklan seolah tidak tertandingi kecuali kompetitor atau pendatang baru hadir dengan budget besar.

Besarnya belanja iklan brand-brand tersebut seringkali menimbulkan pertanyaan sekaligus keraguan brand baru dengan budget terbatas untuk ikut terjun meramaikan iklan layar kaca. Angka atau budget yang mereka kucurkan seringkali hanya menciptakan share of voice yang sangat kecil atau gaung yang diciptakanpun sangat lemah.

Disamping tingkat kepercayaan diri yang relatif sudah mantap, brand-brand yang sudah terbiasa beriklan dan merasakan hasilnya secara terukur juga sangat piawai dalam menetapkan budget iklan. Hal yang sedikit berbeda bagi sejumlah brand terutama brand baru dimana penetapan budget iklan seringkali masih menjadi perkara sulit atau rumit.

Penetapan budget iklan dengan menggunakan advertising to sales ratio calculation barangkali bisa dicoba. Pemilik brand harus jeli dan berani mencoba menetapkan angka tersebut.

Jika misalnya pada suatu waktu tertentu penambahan biaya iklan berhasil menaikkan angka penjualan yang signifikan, maka suatu kampanye iklan bisa dianggap berhasil. Perlu dicatat bahwa setiap kategori brand mempunyai rasio Advertising to sales (A to S) yang berbeda-beda.

Product life cycle juga sangat menentukan besaran biaya iklan. Pada saat peluncuran brand, pemilik brand cenderung menetapkan rasio A to S hingga 10% bahkan lebih sebab pada tahap ini dibutuhkan upaya komunikasi yang lebih kuat demi menarik minat pelanggan kompetitor.

Satu hal menarik yang menurut Advertising Indonesia dilakukan cukup baik oleh White Koffie Luwak adalah mengoptimalkan layar kaca dalam berbagai bentuk materi komunikasi. Marketing channel yang dilakukan brand ini cukup variatif sehingga terkesan dominan. Bahkan publik menduga brand ini mengucurkan biaya iklan yang sangat besar, sekalipun faktanya tidak demikian.

Tampak jelas kehadiran brand White Koffie Luwak di berbagai program unggulan tidak sekedar beriklan namun sebagai sponsor. Branding yang dilakukan di layar kaca tampak sangat kuat sehingga menimbulkan kesan brand leadership yang kuat. Efek bola salju yang diciptakan sangat dahsyat dan sebagai pendatang baru brand ini dinilai sukses.

Dalam bahasa komunikasi iklan, White Koffie Luwak cukup sukses dalam menciptakan recall, recognition dan noted scores. Tingkat effective reach dan frequency yang dibutuhkannya sebagai brand baru tampak tercapai dengan efektif sehingga level komunikasi yang diciptakan sangat dahsyat. Terbukti dengan kehadiran brand ini di sejumlah supermarket besar hingga ke warung-warung pinggir jalan tampak jelas.

Artikel terkait: Quo Vadis Industri Periklanan Indonesia
Suramnya Perusahaan Periklanan Indonesia
Kemang Avenue (1)
Wawancara Narga Habib