Wawancara Narga Habib (Mantan Ketua Dewan Pertimbangan P3I)

0
1380

Aturan Industri Periklanan Harus Tegas dan Ditegakkan

Narga Habib, Pendiri Cabe Rawit Group

ADVERTISING-INDONESIA.id – Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) bukan lagi sebuah organisasi kemarin sore. Dari generasi ke generasi, P3I terbukti masih mampu mengayomi ratusan perusahaan periklanan di Indonesia. Kini, di era globalisasi dimana arus permodalan dan ekspansi bisnis menjadi lebih mudah, mampukah P3I mewadahi perusahaan periklanan baik perusahaan periklanan nasional maupun multinasional?


Editor in Chief dan Managing Editor Advertising Indonesia mewawancarai Narga Habib untuk membahas berbagai isu seputar P3I. Narga Habib dikenal bukan saja sebagai mantan pengurus P3I Pusat tapi adalah salah satu tokoh kunci industri periklanan Indonesia sekaligus salah seorang pendiri Cabe Rawit yaitu salah satu dari sedikit biro iklan nasional yang mampu berkiprah dan berprestasi di industri periklanan Indonesia. Berikut sebagian kutipan wawancara Advertising Indonesia dengan Narga Habib di kantor Cabe Rawit, Bintaro Tangerang Selatan.

Q: Apakah masih ada kebanggaan bagi advertising agency nasional dengan memenangkan berbagai penghargaan?

A: Iya, tapi sekarang ini pasarnya sudah berubah. Di Indonesia memang masih menjadi hal penting. Tapi sebetulnya, kenapa aku tidak lagi tertarik untuk ikut ajang advertising award? Itu karena sudah kebanyakan scam ads. Aku paling anti sama scam ads. Kalau aku selalu buat dan sertakan iklan yang berdasarkan brief dari client. Pertama, iklan itu berhasil sesuai dengan objective-nya dan kedua bonusnya adalah creative awards. Kalau sekarang apapun juga menjadi creative award. Nah itu yang aku tidak suka. Intinya jika terlalu banyak scam ads yang masuk lalu tiba-tiba agency Cabe Rawit bisa menang award itu berarti tidak benar.

Q: Apa peranan P3I saat ini? Kenapa berbagai hal yang kontroversial seolah dibiarkan?

A: Pertama, aku sudah nggak di lembaga (P3I) yah! Orang men-cap Cabe Rawit itu perusahaan lokal yang idealis, padahal aku nggak seperti itu. Aku bilang; aku nggak butuh proteksi. Justru pertanyaannya begini: Bagaimana mungkin (kita biarkan) perusahaan Amerika bisa berjaya di negara kita, padahal ini negara kita? Kalau aku masih bisa melawan yah aku lawan lah. Kalau kalah yah itu nasib aku laah. Berangkatnya dari situ.

Banyak hal yang mesti diatur; Pitching fee itu menjadi konyol. Dulu disepakati, ada 40 agency tanda tangan untuk pitching fee sekian-sekian nilainya dan semua harus dibayar. Jadi pitching fee ini disepakati. Suatu waktu, 7 agency diundang pitcing. 6 multinasional dan 1 nasional (Cabe Rawit). Aku sodorkan pitching fee, (ternyata) malah ‘berisik’ itu client karena yang lain tidak pakai pitching fee. Jadi sebetulnya, yang terjadi karena kebodohan kita sendiri. Coba kalau semuanya kompak? Apakah aku atau agency lain yang akan dipilih itu tidak menjadi masalah. Tapi tatanannya sudah benar. Jadi tidak membuat client sekadar ‘window shopping’.

Wajarlah (pithing fee). Aku membawa contoh itu seperti makan bakmi GM. Kalau mau makan harus bayar di depan. Cash pula, tidak terima kredit. Setelah kau makan, terus tak enak. Apakah mie itu kau buang? Tidak kan? Tapi ujung-ujungnya duit. “Bunuh-bunuhan.” Aku masih mengalami Agency Service Fee 22%, 17-16% akhirnya turun sampai menjadi 3,5%. Setelah itu aku nggak mau lagi. Ada lagi yang sampai 1%. Setelah itu aku resign. Aku tutup webmedia-ku. Apa yang aku lakukan? Aku cari mitra strategis. Itu karena aku sudah bayar data mahal. Dan ini bukan dagang. Yang terjadi adalah; Agency yang besar-besar itu ada yang dengan ASF 0,3% bahkan ada yang 0,1%. Sekarang pertanyaannya: Yang bodoh itu siapa? Sekarang kalau ditanya, kenapa industri advertising seperti sekarang ini? Itu karena kita sendiri yang merusak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here