RATING IKLAN TIDAK SAMA DENGAN RATING PROGRAM
Perlu dipahami bahwa rating akan bergerak naik dan turun saat sebuah program sedang tayang. Bahkan ketika iklan ditayangkan, jumlah penonton pasti akan turun hingga ke level yang signifikan sebab berbagai aktifitas lain biasanya segera muncul ketika iklan ditayangkan, termasuk diantaranya memindahkan saluran TV.
Rating program adalah peluang yang harus dimaknai sebagai acuan dan bukan kepastian. Harus dipahami bahwa rating iklan tidak sama dengan rating program. Jumlah penonton program (isi program) biasanya jauh lebih tinggi dari jumlah penonton iklan, itu artinya rating program perlu dikoreksi saat seorang perencana media sedang melakukan pemilihan program berdasarkan rating. Data hasil survey yang dikumpulkan oleh Nielsen Indonesia menunjukkan dengan jelas pergerakan rating di setiap menit jam tayang, dan melalui data ini kita dapat melihat pergerakan jumlah penonton suatu program.
KEKELIRUAN PENGGUNAAN RATING
Berbagai gugatan atau masukan tentang penggunaan rating yang dianggap keliru:
- Media Digital Mengepung Media KonvensionalRating dianggap misleading ketika digunakan sebagai acuan penentuan kualitas sebuah program tanpa mempertimbangkan kualitas isi program.
- Pemilihan anggota panel survey rating dianggap tidak transparan
- Keabsahan perhitungan atau analisis statistik yang berkaitan dengan data reliability dan ekstrapolasi dianggap tidak representatif
- Bagi tim penjualan space iklan stasiun TV, rating dinilai melemahkan nilai jual program yang segmented dengan isi yang terpertanggungjawabkan sebab melalui metode survey yang dilakukan saat ini rating program-program segmented seringkali berada dibawah 1 dan para pengiklan acap menawar program tersebut dengan semurah-murahnya.
- Rating berdampak kontra produktif bagi stasiun dengan rating program rata-rata di bawah 1 sebab seringkali space iklan mereka ditawar dengan menggunakan pola pendekatan CPRP yang berpotensi menurunkan harga penayangan satu iklan dengan durasi 30 detik di berbagai program hanya di bawah satu juta rupiah.
Namun demikian, berbagai pandangan tentang metode survey dan penggunaan rating tidak perlu disikapi dengan menolak hasil survey rating, sebab setiap hasil penelitian atau metode penelitian yang digunakan Nielsen Indonesia diaudit secara kontinu oleh lembaga audit terkemuka. Disamping itu, penggunaan rating yang salah atau misused of rating seringkali terjadi karena kurangnya pemahaman pihak terkait tentang apa sebetulnya rating, jadi bukan kesalahan lembaga atau hasil survey semata.




























