Berperang Melawan “Robot” di Media Sosial

0
1994

Belajar dari Kasus Pilpres AS & Pilkada DKI

Mengutip kolom opini di kompas.id dan Kompas cetak (14/10) yang ditulis oleh Agus Sudibyo, Direktur Indonesia New Media Watch, yang berjudul “Pengakuan Bersalah Zuckerberg” dimana Agus mengkritisi tanggungjawab CEO Facebook, Mark Zuckerberg. Dalam kolom opini tersebut tersurat banyaknya “penumpang gelap” dalam sosial media yang dibangun Mark. Bahkan Amerika mengklaim ada sekitar 3000 pesan yang dianggap menambah kericuhan pilpres di AS. Akibat banyaknya berita Hoax yang tersebar di Facebook menyebabkan perpecahan masyarakat di Amerika Serikat, begitu juga di warga Jakarta  yang terbelah menjadi dua kubu pada Pilkada DKI beberapa waktu lalu.

Untuk itu Agus Sudibyo mengkritisi perlunya tanggungjawab secara sosial dan moral yang harus dilakukan oleh Facebook terhadap pemberitaan bohong atau hoax. Lalu bagaimana tanggungjawab sosial media melawan hoax yang disebarkan “penumpang gelap?” Contohnya ada di Jerman yang mendirikan “Unit Penanggulangan Hoax” dimana melayani pengaduan 24 jam sehari jika terdapat hoax di sosial media. Untuk setiap hoax yang tidak dihapus dalam 24 jam, maka pemerintah Jerman akan mengenakan denda sebesar 7 Miliar kepada perusahaan media sosial tersebut. Mampukah Indonesia melakukan hal seperti di Jerman? Mampukah Indonesia melawan “robot” yang setiap hari membuat akun palsu?

Untuk menjaga konsep komunikasi via digital tetap bekerja dengan baik adalah dengan kembali kepada kaidah komunikasi itu sendiri.

Belajar dari Facebook di AS, maka di Indonesia baiknya setiap pemangku kepentingan (stake holder) sosial media, termasuk advertiser maupun agency harus lebih berhati-hati. Baik itu dari sisi pesan, kreatifitas hingga penyebaran informasi brand atau produk di sosial media. Jangan sampai pesan yang dipublikasikan melalui saluran brand di sosial media disalahartikan, dimultitafsirkan dan menjadi berita negatif oleh para “penumpang gelap” atau akun palsu. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah banyaknya mesin “robot” yang diciptakan manusia untuk “meramaikan” sebuah saluran (channel) brand dan seolah-olah berinteraksi dengan brand.

Persaingan manusia dengan mesin atau robot adalah hal yang tidak mungkin dihindari di masa depan. Untuk menjaga konsep komunikasi via digital tetap bekerja dengan baik adalah dengan kembali kepada kaidah komunikasi itu sendiri. Selain itu, menjaga etika dan tanggungjawab moral dari setiap hal yang dimuat di sosial media menjadi hal yang selalu dilibatkan. Semakin kuat tahapan komunikasi itu dijaga, maka semakin besar kita bisa mengontrol teknologi yang bermanfaat bagi brand. Jadi, ancaman robot itu pesaing manusia bisa berakhir dengan supremasi manusia terhadap robot ataupun mesin.

Hal ini mengingatkan kita pada era 90-an dimana saat itu Garry Kasparov, sang Grand Master Catur Dunia asal Rusia, akhirnya menantang mesin “Deep Blue” buatan IBM sebagai sebagai lawan caturnya. Hebatnya, Garry Kasparov berkali-kali menang main catur melawan mesin tersebut padahal mesin tersebut telah dirancang sedemikian rupa untuk bermain catur mengalahkan Kasparov. Hal itu terjadi dikarenakan sudah tidak ada lagi manusia di bumi ini yang bisa mengalahkan Gary Kasparov dalam bermain catur. Pertanyaannya adalah apakah kita semua sudah sekelas Garry Kasparov yang bisa mengalahkan mesin?

Berita terkait:
– Hangatnya Pertemuan Dengan Top Management IRIS Jakarta
– Pertemuan Advertising Indonesia Dengan Pimpinan Dentsu X
– Jerit Hati Fadhil, Agen Media Cetak Di Kawasan Blok M Jakarta
– Publicis Groupe Meluncurkan Spine untuk Kelola Big Data