Sementara itu untuk kategori pendidikan, belanja masyarakat cenderung meningkat. Untuk masyarakat kelas menengah atas, peningkatan belanja pendidikan hingga 37%. Sedangkan untuk kelas menengah meningkat hingga 47% dan untuk kelas masyarakat bawah meningkat 44%. Hal ini karena secara faktual, uang sekolah cenderung naik, terutama bagi sekolah swasta. Hal ini menjadi pilihan sulit bagi masyarakat Indonesia karena cenderung tidak mungkin menolak kenaikan harga uang pangkal, SPP ataupun uang pendaftaran. Hal tersebut berlaku mulai TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. Siapa yang bisa menolak kenaikan biaya pendidikan kecuali anak tersebut dipindahkan ke sekolah lain? Dan itupun jika masih ada bangku kosong di sekolah lain?
Kini, perilaku konsumen Indonesia semakin rasional. Konsumen hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan.
Untuk beberapa hal yang berhubungan dengan durasi jangka panjang, seperti pendidikan maka akan sulit untuk menolak kenaikan biaya. Namun untuk hal-hal yang bersifat harian, masyarakat memiliki pilihan yang cukup banyak. Itulah mengapa saat ini perang harga barang cepat habis (FMCG) masih terjadi di masyarakat.
Data ini bisa menjadi kompas mata angin untuk menentukan langkah berikutnya di sisa kwartal terakhir 2017. Kini, perilaku konsumen Indonesia semakin rasional. Konsumen hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan. Tren menabung terus meningkat dan gaya hidup lebih fokus pada mencoba lokasi wisata dan makanan terbaru. Semakin besar pendapatan masyarakat bukan berarti semakin impulsif untuk menghabiskan uang, tapi sebaliknya dimana masyarakat semakin selektif membeli produk. Jadi, seberapa besar industri advertising bisa mendorong belanja masyarakat? Itu kembali kepada strategi kreatif dan strategi media untuk menciptakan strategi periklanan yang kuat sehingga berdampak secara signifikan.





























