Creative Thought:
Hasil Karya Kreatif Insan Periklanan Bukan Komoditi

0
1810

ADVERTISING-INDONESIA.id – Saat ini semakin banyak praktisi periklanan yang merasa galau melihat cara pemilik brand atau client menghargai hasil-hasil karya praktisi periklanan. Ini terjadi bukan hanya di Indonesia, di berbagai negara bahkan advertising agency yang beroperasi di Madison Avenue Amerika Serikat juga mengeluhkan hal yang sama.

Keluhan ini seolah tidak terjawab bahkan semakin menjadi-jadi karena dalam setiap pitching yang terjadi adalah tawar menawar harga yang menempatkan hasil-hasil karya industri periklanan seperti komoditi. Mengapa kita tidak rela kalau hasil karya praktisi periklanan diperlakukan sebagai komoditi? Kita boleh mencermati pengertian pokok komoditi sebagai produk atau jasa yang dipasarkan dalam rangka memenuhi kebutuhan serta keinginan dan komoditi bisa dipertukarkan.

Persoalan mendasar yang timbul ketika hasil karya kreatif diperlakukan sebagai komoditi adalah persepsi yang sangat kental di benak para pemilik brand khususnya tim procurement bahwa gagasan kreatif si A yang merupakan pemikir kreatif Agency X dapat dipertukarkan dengan mudah dengan gagasan kreatif si B yang merupakan pemikir kreatif Agency Y. Ini sama sekali tidak betul. Setiap gagasan yang berasal dari kepala seseorang pasti memiliki keunikan atau USP (meminjam istilah Bates). Sebagai contoh, hasil karya kreatif berupa copy yang diciptakan seorang copy writer sangat jarang bisa ditukar-tukar dengan copy yang diciptakan copy writer lainnya. Pasti ada keunikan masing-masing.

Baca : Proses Dasar Terbentuknya Pengukuran Media Online

Segepok uang 10 ribu rupiah bisa ditukar dan sama saja dengan segepok uang 500 rupiah asal jumlahnya 10 ribu rupiah juga. Satu kilogram emas murni bisa ditukar dengan mudah dengan 100 koin emas murni asal beratnya tetap satu kilogram. Bisakah satu konsep kreatif ditawar-tawar dan ditukarkan dengan konsep kreatif lain yang berasal dari agency lain? Sangat naif kalau itu yang terjadi.

Tidak perlu heran kalau saat ini harga untuk sebuah konsep kreatif hingga konsep campaign yang berat-berat dilirik dengan mata sebelah oleh sebagian pemilik brand. Mereka menganggap tidak ada bedanya antara satu konsep yang dihasilkan satu agency dengan agency yang lain. Sama saja. Hal inilah yang membuat kerja keras praktisi periklanan pada masa pitching tidak dihargai dengan pantas, bahkan untuk membayar pitching fee pun mereka tidak rela, tidak ada dalam kamus mereka.

Baca :  Pemikiran Kreatif : Strategi Advertising = Sinergi Strategi Kreatif + Strategi Media

Perlukah menjelaskan ini kepada pengiklan? Pada dasarnya tidak perlu, sebab mereka adalah insan-insan pemasaran yang paham soal mahalnya nilai sebuah karya kreatif. Mereka paham bahwa hasil karya kreatif tidak patut diperlakukan sebagai komoditi. Mereka paham bahwa gagasan kreatif yang mereka pilih karena dianggap sebagai yang paling tepat dalam memenuhi tujuan pemasaran mereka sangat tidak bisa dipertukarkan dengan begitu saja dengan gagasan kreatif agency lain.

Persoalannya adalah, seringkali ini soal kualitatif. Salah satu cara mengatasinya adalah mengubah persepsi kualitatif ini menjadi sangat kuantitatif. Buktikanlah bahwa gagasan yang anda ciptakan sebagai orang kreatif terbukti mampu membangun brand hingga ke tingkat yang sangat signifikan dan sukses secara bisnis.

Jean-Marie-Dru, co-founder dan chairmandari France’s BDDP Agency yang merupakan bagian dari TBWA Worldwide mengajukan disruption sebagai pendekatan revolusionernya terhadap marketing. Kita harus berpikir disruptive. Kita harus selangkah, dua langkah lebih maju dari cara berpikir client. Kita harus mengubah cara berpikir client dan memaksa mereka mengakui hebatnya gagasan kita. Rod Wright, dari BDDP France mengatakan “If you don’t create change, change will create you” . Pertanyaannya, apakah kita mampu? Jawabannya pasti: Ya, mampu.  Apa sulitnya?

 

Berita terkait:
– Masyarakat Indonesia Semakin Rasional
– Pemikiran Kreatif: Strategi Advertising = Sinergi Strategi Kreatif + Strategi Media
– Berhati-Hati Menggunakan Iklan Humor
– Proses Dasar Terbentuknya Pengukuran Media Online