Perspektif Peran Advertising di Era Digital

0
3277

Perubahan Perilaku Sebelum Pembelian: Consider and Buy

Aplikasi belanja yang semakin banyak menjadi tantangan sekaligus membuka kesempatan baru bagi para pemilik brand. Kaum milenial menyebutnya dengan kemudahan berbelanja. Kemudahan berbelanja tanpa harus melangkahkan kaki ke luar rumah telah mendorong frekuensi transaksi online yang semakin tinggi dan oleh sebagian publik dipercaya sebagai salah satu penyebab tutupnya outlet-outlet tradisional dewasa ini. Namun yang paling perlu diperhatikan adalah terjadinya perubahan dalam proses pembelian brand khususnya pada tahap sebelum pembelian.

Di era pemasaran tradisional, pembeli harus mengunjungi dealer atau toko tempat-tempat penjualan dan bertemu terlebih dahulu dengan para penjual demi mendapatkan penjelasan yang lengkap tentang suatu brand. Tentu penjelasan yang diterima sudah pasti berdasarkan keinginan atau pendapat penjual. Proses pertimbangan dan evaluasi pembelian di era pemasaran tradisional sangat didominasi oleh peran penjual termasuk melalui informasi-informasi yang mereka miliki, artinya ketergantungan pembeli kepada penjual sangat tinggi.

Baca : Editorial: Siapakah Advertising Agency Terbaik 2017 Indonesia?

Di era digital, situasinya berubah sangat signifikan. Pembeli bisa mencari dan ‘menguliti’ produk yang hendak mereka beli dengan leluasa tanpa sepengetahuan penjual atau tanpa merasa perlu bertemu dengan penjual. Saat ini pembeli bisa mendapatkan informasi yang selengkap-lengkapnya tentang suatu produk lewat beragam sumber dan bukan hanya soal fitur produk namun juga soal kekuatan dan kelemahan suatu produk yang mereka minati. Calon pembeli bisa mendapatkan informasi atau meminta informasi atau saran tentang suatu brand dari orang-orang yang mereka percaya dan sudah memiliki pengalaman dalam menggunakan brand tersebut.

Para pemilik brand sangat sadar bahwa brand harus semakin terbuka dan jujur terhadap publik. Informasi tentang brand bisa diperoleh melalui begitu banyak sumber dan publik bisa menafsirkan segala informasi yang mereka dapatkan dengan bebas. Dalam situasi ini, advertising yang dikenal sebagai teknik komunikasi persuasif harus dilakukan dengan sangat hati-hati, sebab klaim atau pengakuan pemilik tentang berbagai kelebihan dan kekuatan brand bisa kontraproduktif dengan apa yang diperbincangkan di media-media online. Bahkan eksekusi iklan bisa ‘dikuliti’, ditafsirkan dan dibagikan secara luas atau menjadi viral.

Sekalipiun tren pembelian suatu barang atau jasa lewat belanja online terus meningkat, keberadaan outlet sebagai salah satu touch point tetap perlu dipertimbangkan, sebab keputusan membeli masih bisa berubah ketika pembeli sudah berada di titik-titik penjualan. Eksploitasi rak penjualan, packaging, harga, ketersediaan dan interaksi sales masih perlu tetap diperhatikan. Para ahli berpendapat bahwa keberadaan offline-store masih akan relevan untuk banyak produk.